Iklan

Foto Bugil Pamer Susu Mahasiswi Universitas Swasta di Yogyakartaaa













Foto Polwan Cantik Briptu Dara Intan

Foto Dara Intan

Biodata Dara Intan:
Nama : Dara Intan
Pangkat polisi : Bripda
Status : Single
Akun Twitter Briptu Dara Intan : @insaniii
di kepolisian Dara intan memiliki panggilan Briptu Dara :)

Maju terus Kepolisian indonesia









Cerita Dewasa - Kimcil Cantik Ngentot Dengan Sopir



Cerita Dewasa - Kimcil Cantik Ngentot Dengan Sopir – Aku lugu dan polos, mungkin ini kelemahan ku saat aku tidur dengan sopirku. Cerita seks ini ak share aja disini. untuk para pembaca sensor , kisah ini nyata dan tidak ada rekayasa…sengaja saya kepingin curhat lewat cerita ini soalnya untuk terus terang ke temen atau saudara atau ortu, ga bisa.. namaku Dita Putri ,usia saat ini 20 asli Bandung,tinggal di daerah Setiabudi Regency,

Cerita Dewasa – dan saat ini kuliah sastra inggris semester 4 di salah satu pts Bandung, kata temen2 kampusku aku termasuk cewek cantik dan beruntung, kenapa? karena bentuk tubuhku(kata temen)bisa dibilang proporsional dan bikin terangsang kaum cowo(semua ini kata temen2 deketku seperti si Nita,Asni,Ruri) tapi sampai sekarang aku belum punya pacar karena ga boleh sama ortu.o ya,di rumah kami tinggal berlima aku dua bersaudara adikku cewek dan aku dan kedua orang tuaku satu lagi pembantu sekaligus sopir pribadi keluargaku sebut saja mang Sardi(maaf,nama samaran)(dia itu usia nya hampir seusia papahku yaitu sekira 50 tahunan)jadi genap berlima semuanya..

kejadian aneh dan mengasikan itu terjadi kira2 beberapa bulan lalu saat bulan puasa, waktu itu hari jum’at (tanggalnya lupa) kami di rumah hanya berdua yaitu saya sama mang Sardi, sedangkan mamah-papah sama si Danti(nama adikku yg masih smp itu) sedang ke Bogor (berangkat hari jum’at subuh setelah makan sahur) karena papah serah terima jabatan di Pemda Bogor dan mereka menginap selama 3 hari,sedangkan saya mesti kuliah semester pendek, jadi ga bisa ikut, dan di rumah ditemani supir kami mang Sardi karena disuruh papah jagain aku. Jadi resmi di rumah yg besar ini(karena saat nulis email ini lagi dirumah) kami berdua, saya dan mang Sardi di ruang bawah. setelah keberangkatan mereka dan makan sahur saya kembali lanjutkan tidur sementara mang Sardi beres2 ruang bawah, nah kejadian anehnya ini berawal ketika saya mau mandi di ruang bawah (karena sowernya deket ruang tamu) saat itu saya mau kuliah jam 8.00, sedangkan saat bangun jam 7.00 saya agak santai saat itu karena selain jarak kampusku deket juga ada mobil civic grand kesayanganku itu yg selalu menemani kemanapun.

Cerita Dewasa – saat mau mandi saya langsung buka daster seperti biasa kalo pake daster saya selalu tidak pake BH dan CD, jadi hanya baju tidur aja, demi kesehatan, begitu menurut mamaku…asal tau aja kalo tubuhku seperti yg dikatakan temen2ku itu betul2 proporsional dg ukuran BH 34A dan pinggul yg agak bulat serta kulitku yang putih mulus tanpa cacat kalo disamain, kata teman2ku aku ini mirip2 sedikit dengan Putri Patricia artis sinetron itu(bukan geer lho) , setelah telanjang gitu saya mencoba buka kran sower tapi ga keluar air alias macet dan saya agak jengkel sambil setengah teriak panggil mang Sardi…..”mang Sardiiii….kesini cepat”,dan dg spontan dia datang tergopoh2, saya lupa saat itu udah telanjang dan pintu ga dikunci, begitu dateng dia, langsung mukanya merah padam karena melihat saya telanjang bulat di hadapannya, saya pun malu spontan tanganku menyambar kain daster di gantungan dan bilang ke dia kalo sower ga jalan, lalu dia terbata2 bilang gini “maaf neng,mamang lupa bukain jet pump di dapur, lalu saya suruh dia “cepet mang bukain udah dingin nih!!”

Cerita Dewasa - lalu dia menganguk dan setengah berlari dia ke dapur, setelah menyala sowernya itu lalu aku semprotkan sower air panas ke bathtub dan aku langsung agak loncat ke bathtub tanpa ada rasa lupa mengunci pintu toilet tersebut, dan setelah aku selesai mandi aku lupa kalo aku juga ga bawa handuk lalu aku panggil mang Sardi tapi saat itu posisiku masih didalam bathtub berbusa tentu saja telanjang, tak lama dia datang dan dengan meminta ijin dia masuk ke toilet dengan hati2 sekali, “mang tolong bawain handuk bunga2 yg warna merah di kamar” begitu kataku saat itu, dia menganguk dan langsung ke kamarku lalu saya tersenyum sendirian melihat tingkah laku mang Sardi barusan yg hati2 sekali dan malu2 tertunduk itu, sekilas ada hasrat untuk mengerjainya waktu itu, ga berapa lama dia muncul bawa handuk lalu aku keluar dari bathtub dengan posisi membelakangi dia sehingga yg dia lihat punggung mulusku saat itu(tentu saja saat itu saya masih telanjang bulat) dengan suara agak gemetar dia bilang gini “sudah ya neng ini handuknya!” lalu saya bilang “bentar dulu mang, mendingan mamang yg menghanduki saya biar tahu sekali2 rasanya menghanduki cewe(begitu awalnya saya mengerjainya,o ya asal tau aja kalo mang Sardi itu adalah duda tanpa anak sejak 7 tahun lalu)

semula dia keliatan kikuk dan ragu2 melakukannya (saya tahu karena liat cermin didepanku walaupun membelakangi dia) dengan wajah tertunduk dan mimik muka yg malu2 lalu dia mengusapkan handuk ke punggungku yg masih berbusa sabun, dan cukup lama dia mengusap2 punggungku…lalu saya bilang “seluruhnya donk mang, dari rambut ke kaki paling bawah” dan “iya…eee..iya neng sebentar” dia terbata2 jawabnya. Sekilas saya sempet tertawa kecil karena merasa seneng udah kerjain dia, lalu dia mengusapkan handuk dari rambut ke leher, lembut sekali, bahu punggung dan di posisi pinggang dan bokong (belahan anus) agak lama menghandukinya, sekilas terasa seperti diusap2 lembut dan ada rasa enak ketika dia menghanduki daerah deket anus, lalu ke paha belakang dan terakhir di kaki bawah. Saat itu terlintas saya mau menyudahinya karena mungkin waktu sudah jam 7.30 pikirku, namun entah setan apa yg merasuki aku saat itu sehingga ada pikiran nakal lagi mau mengerjainya lebih, dan secara refleks aku berbalik badan dan saat itu kontan dia terbelalak kaget dengan posisi tubuh telanjangku menghadap dia yg masih memegang handukku itu lalu dia tertunduk dan aku langsung berkata seperti ini “mamang sekarang membersihkan dan menghanduki bagian depan ya mang!!” begitu suruhku sambil agak setengah ketawa(habis ga tahan tingkah laku dia yg kikuk itu)

lalu diapun menghanduki badan bagian depanku mulai dari rambut lalu wajah (aku tertawa kecil saat dia handuki wajahku) tapi yg aku tahu dia tetap tertunduk, dan setelah wajah ke leher lalu (aku agak deg2an saat itu)dia menghanduki bagian dada kiri kananku agak lama(sejenak dia agak terhenti saat menghanduki daerah dada) dan saat itu juga aku berhenti ketawa2 kecil dan ada rasa aneh yg belum pernah dirasakan saat mang Sardi menghanduki dadaku, soalnya selama ini kalo sama sendiri rasanya biasa2 aja, tapi pas sama orang lain yg menghandukinya jadi agak lain rasanya, ada perasaan enak dan nikmat sementara saya seperti dibius saja terpejam beberapa saat tanpa sadar berkata seperti ini “hmmm….hmmm…hmmm” kontan saja mang Sardi bertanya “kenapa neng?neng Dita marah ya sama mamang?”…dia mencoba untuk menegakan kepalanya yang agak melihat ke wajahku yg lebih jangkung dari dia, dan dia semakin berani malah saat itu menatap wajahku ,aku menggeleng dan berkata “ngga mang…saya ga marah cuman…” aku ga meneruskan kata2ku saat itu….lalu dia tanya lagi “cuman apa neng? bilang sama mamang?” suaranya seperti ketakutan kalo2 saya akan memarahinya..lalu saya teruskan kata2ku “cuman ada perasaan enak di elus2 gitu mang!!” jawabku polos saat itu tanpa ada rasa malu kalo ternyata saat itu adalah pertama kali terangsang secara seksual, gilanya lagi oleh pembantu sekaligus sopirku mang Sardi!!!

Mang Sardi malah senyum setelah saya ungkapkan kepolosanku itu lalu berkata gini “nah…neng…mamang tau sebenarnya kalo neng Dita ini mau mengerjain mamang ya…dan ternyata malahan neng Dita sendiri yang mulai terangsang!!!” begitu katanya dengan logat sunda yang kental sambil tetap tangannya memutar-mutar dadaku kiri kanan dengan handuk, padahal kalo saya lihat udah kering dadaku itu, justru yg masih basah adalah bagian perut dan kemaluanku yg agak masih jarang bulu2nya hanya bulu halus seperti rambut, lalu saya memegang tangan mang Sardi dua2nya dan berkata “cukup mang, Dita kesiangan nih kuliah udah telat dari tadi”, lalu mamang menganguk dan melilitkan handuk itu ke tubuh saya seperti saat dia melilitkan handuk ke tubuh saya saat SD…..dan sebelum dia keluar saya menarik tangan kirinya sambil berkata “jangan bilang sama mamah-papah ya, diem aja nanti deh pulang kuliah dihandukin lagi sama mamang seperti tadi, mau ga?” kataku cepet2, dia cuman menganguk.

Lalu pas di tempat kuliah saya ga bisa konsentrasi, kepengen cepet pulang selain lapar karena puasa juga kepengen cepet mandi dan dihanduki lagi sama mang Sardi.. Setelah selesai kuliah kira2 jam 12.30 aku bergegas pulang dan sampe di rumah jam 13.00 langsung menuju kamar dan ganti pake daster dengan maksud mau mandi siang sambil membawa handuk saya lihat mang Sardi terbengong-bengong dengan tingkah lakuku itu dan sambil tersenyum saya berkata seperti ini ke dia “mamang handukin lagi Dita ya mang?” dia menganguk setengah tersenyum dan bilang gini “neng Dita mandi aja dulu nanti kalo udah selesai panggil mamang, pasti deh mamang nyamperin ke toilet” saya menganguk dan mandi, setelah selesai mandi saya panggil dia dan langsung masuk ke toilet tanpa permisi dan sepintas dia menyambar handukku dan tanpa basa basi saya keluar dari bathtub dan dia menghampiri, kali ini saya langsung menghadapnya dengan telanjang badan tanpa membelakanginya seperti pagi hari tadi, lalu dia langsung menghanduki rambutku yg basah kuyup oleh air dan saat itu kami tidak bicara satu sama lain hanya mungkin kata hati kami masing2 bicara sementara dia handukin rambut leher dan pundak saya , malah terpejam(mungkin saya sedikit menikmatinya) dan yg paling mendebarkan saat mang Sardi menghanduki dadaku kiri kanan itu benar2 lebih mendebarkan ketimbang di pagi hari itu.

Dan saat bermenit-menit mang Sardi mengusap dadaku kiri kanan dengan handuk tiba2 dia nyeletuk seperti ini “neng Dita, kalo diusapnya tidak pake handuk seperti ini akan lebih nikmat!!!” lalu aku jawab “maksud mamang???langsung pake tangan mamang gitu!!!” dia menganguk seolah minta restu dariku, lalu saya pun menganguk tanda setuju….dan ternyata jauh dari pikiranku lebih nikmat langsung dielus pake tangan mang Sardi ketimbang dielus memakai handuk, sesaat tangan kiri dulu lalu kemudian tangan kanannya menyusul meremas lembut sambil sesekali melintir seperti memainkan volume radio tapeku. Dan benar saja nikmat sekali rasanya apalagi ini baru pertama kalinya seorang laki2 menyentuh langsung dengan telapak tangan ke dadaku dan lama-lama makin mengeras saja payudaraku saat itu, tidak sadar ternyata seperti mau pipis rasanya dan geli, nikmat, asik, enak campur aduk jadi satu saat mang Sardi terus mengelus buah dadaku yg belum pernah dielus itu, ternyata kejadianya hampir 1/4 jam kala dia mengelus dadaku ini. Semakin lama semakin tak sadar sambil terpejam saya merapatkan badan ke tubuh mang Sardi dan dia mundur ke belakang, punggungnya menyentuh dinding toilet dan saya terus semakin merapatkannya sambil tetap dia mengelus2 halus buah dada ini kiri kanan, dan posisi itu yang saya ingat, menimbulkan semacam gesekan benda yang mengeras hangat di balik sarungnya(o ya, saya lupa saat itu dia memakai kaos oblong dan kain sarung karena pulang Jum’atan di masjid depan rumahku) mungkin dia ga pake celana kolor karena dari gesekan tubuhku ini terasa sekali semacam kemaluan laki2(yg selama ini saya tau dari film dan cerita2 temen2)

saat saya terpejam begitu lama2 dia berani menjulurkan lidahnya ke leher saya waktu itu, semula saya mau menghindar tapi tak kuasa untuk menghindarinya dan mencoba untuk menikmatinya, agak geli karena berkumis tapi lucunya posisi dia mendongkak ke atas karena saya lebih jangkung dari dia dan agak berjinjit kakinya dan dia menjilati leher kebawah lalu pundak dan akhirnya di dada, ini lebih nikmat rasanya ketimbang pake tangan dan ga sadar saya mengeluarkan suara”SSSSTT…AHHH… AHHH…. HMMMMMM”mungkin begitu seingatku saat itu.dan itu adalah nikmat dari segala nikmat menurutku saat itu, lalu lama2 dia seperti mau berjongkok dan ternyata berjongkok lidahnya menciumi perutku, udel, lalu ke kemaluan ku yang masih jarang berbulu ini,dan ahhhhh….saya tak sadar bersuara agak keras saat dia menciumi kemaluanku ini, karena saat itu benar2 baru pertama kali diciumin seperti itu sama laki2.nikmat sekali rasanya….Lalu terdengar telepon berdering, buru2 saya melepaskan pelukan mang Sardi di pinggang dan berlari ke ruang tengah sambil telanjang bulat dan agak basah tubuhku saat itu, basah karena air mandi dan liur mang Sardi, ternyata papah dari Bogor telepon mengabari kalo beliau sudah sampe disana, dan setelah telepon ditutup saya membalikan badan ternyata mang Sardi sudah ada dibelakangku, dia mengikutiku sejak tadi berlari ke ruang tamu ini, dan dia bertanya dari siapa teleponnya,saya jawab dari papah di Bogor, lalu mang Sardi menyuruh saya berpakaian lagi sambil menyodorkan daster yang tadi ditanggalkan di toilet, lalu aku pakaikan dasterku saat itu dan masuk kamar.

Sepintas saya liat jam 3.30 sore hari lalu aku tertidur di kasur sampe terbangun dengan ketukan di pintu kamar “neng bangun neng udah magrib”begitu terdengar suara mang Sardi di balik pintu kamar, lalu aku ke bawah dan makan di meja makan sementara mang Sardi di dapur, lalu aku panggil, untuk makan sama2 di meja makan, semula dia menolak tapi akhirnya mau juga. Setelah makan, badan merasa gerah dan aku bermaksud untuk mandi lagi tepat jam 7.00 malam hari, lalu aku lihat mang Sardi sedang nonton tivi dan aku sengaja ajakin dia untuk sama2 ke toilet, semula dia menolak dengan alasan kalo nanti ketauan sama papah, tapi aku jawab papah di Bogor ini, jadi ga usah takut, akhirnya dia mau juga aku ajak ke toilet, entah kenapa saat itu pikiranku bener2 ngeres sejak mang Sardi siang harinya menciumi sekujur tubuhku.Setelah berada di toilet langsung saja aku masuk ke bathtub sementara mang Sardi saya suruh semburin air hangat yg keluar dari sower untuk disiramin ke sekujur tubuhku (tentu saja aku dalam keadaan telanjang bulat saat itu, ga ada suara , hening, yg terdengar hanya gemericik air disiramin diatas tubuh ini, sambil aku tiduran di bathub menikmati aliran air mang Sardi sepintas terlihat hanya memandang tubuh telanjangku, tapi aku pura2 ga liat, khawatir dia kabur ke luar toilet kalo tahu saya pandangin dia.

Dan entah kenapa setelah air itu penuh di bathtub, aku punya ide gila untuk mengajak dia mandi bareng2, tapi tentu saja dia menolak(asal tau saja kalo mang Sardi ini orangnya loyal bgt sama keluarga kami)setelah tau dia menolak secara halus akhirnya saya ga kehabisan akal, saya menyuruh dia untuk menyabuni seluruh badan ini, seperti yg dilakukan mang Sardi disaat saya kecil, dan dia setuju. Lalu mulailah dia menyabuni mulai dari rambut,leher,bahu,punggung dada kiri kanan,dan berhenti di pinggang, saya tanya “kenapa mamang berhenti??”lalu dia jawab “takut dosa neng,neng Dita kan anak majikan saya neng!!!, nanti saya dikejar2 perasaan itu terus” saya mengerti dari raut mukanya dan menjawab seperti ini “mamang ga usah takut, kan kita cuman berdua, lagipula kalo Dita lakukan sama orang lain ga mungkin, soalnya mamang tau sendiri sifat mamah seperti apa ke Dita!!,sejak mamang ciumin tubuh Dita tadi siang jadi suka terbayang2 sama Dita mang” begitu penjelasanku polos saat itu, dan dia berkata”iya neng, mamang juga tadi siang bener2 khilaf, dan mamang pun udah lama ga seperti ini apalagi neng Dita sekarang ini tambah cantik,putih mulus jauh sekali dibandingkan dengan istri mamang dulu”katanya sedih”lalu tanpa sadar saya berusaha untuk menghiburnya dengan refleks memeluknya dan ga terasa saya malah memegang kemaluannya diluar celananya dan terasa sekali sudah mengeras,tidak terlalu besar tapi saat itu benar2 pertama kali saya memegangnya, walaupun mang Sardi itu usianya 50 tahunan tapi masih keras sekali kemaluannya itu, terasa saat dipegang.

Dan dia malah balas memelukku saat itu dalam keadaan basah kuyup dengan siraman sower kami saling memeluk sehingga baju oblong yang dipake sama mang Sardi ikut basah juga akhirnya secara diam2 saya bukakan kaos oblongnya sementara dia diam saja, dan terlihatlah dadanya yang berbulu dan kelihatan masih tegap, lebih tegap dibandingkan dengan tubuh papah, dia diam saja saat saya mencoba mengelus dadanya itu(seperti pada film2 porno yang saya tonton sama temen2 kampus) saya sempat bergetar kala mengelus dada yg berbulu itu, lalu secara spontan dia membelai rambut saya yg basah dan tangannya itu dua2nya mengelus pipiku lembut sekali saya cuman terpejam seakan dielus sama papah yg selama ini sibuk dengan pekerjaan kantornya. Dan sesaat terdiam saat dia memegang bahu saya dan turun tangannya ke dada yg kiri sementara tangan kanannya mengelus paha dan kemaluan saya, saya sempat diam dan malah memaju mundurkan tubuh saat itu seakan menikmati setiap belaiannya itu, sambil tetap mata ini terpejam dan secara refleks malah saya memeluknya erat sekali.

Dan tak lama dengan posisi memeluk sambil berdiri itu saya secara perlahan membuka gesper kulitnya seraya menurunkan celana panjang mang Sardi saat itu, dan setelah saya menurunkan celananya yg basah tersiram sower itu kemudian saya juga menurunkan celana kolor nya itu perlahan dan terlihatlah kemaluan laki2nya begitu mengkilat yang baru pertama kali saya lihat secara nyata dan asli di usia saya yang saat itu 19 tahun(sekarang udah 20 tahun), dan setelah terlihat itu dadaku tambah bergetar tak karuan ketika saya mencoba untuk memegangnya secara perlahan, dan dalam gengnggaman saya saat itu begitu hangat kemaluannya dan berdenyut seperti seekor burung, tapi menambah penasaran untuk berbuat lebih jauh tanpa memikirkan lagi yang namanya logika mana majikan mana pembantu.

Mang Sardi saat itu juga sepintas saya lihat memejamkan mata yang pada akhirnya kami saling membelai, dimana mang Sardi membelai kemaluan saya yg semakin basah dan hangat, sementara saya pun membelai kejantanan mang Sardi yg hangat itu, lama2 saya secara naluri mengocok2nya seperti di film dan mang sardi seperti menikmati kocokan itu hampir sekira 15 menit saya mengocoknya sementara saya telah mencapai puncak kenikmatan ketika mang Sardi memasukan jarinya maju mundur ke dalam kemaluan saya. Dan seperti mau pipis tapi enak dan nikmat rasanya ketika tubuh saya bergetar dan mengeluarkan suara mungkin seperti ini ini yang saya ingat “AAAhhhhhh..mmmmm.m.mmmmm..mm. .ennaakk mmaamang”sambil terus tanganku mengocok2 kejantanannnya itu, dan beberapa saat setelah saya merasa di puncak kenikmatan mang Sardi mengeluarkan pipis berwarna putih kental dan hangat belepotan di tanganku waktu itu yg akhirnya saya tau dari buku kalo itu adalah cairan sperma laki-laki, setelah itu dia melepaskan tangannya dari kemaluanku dan saya pun melepaskan kocokan di burungnya dan membersihkan tanganku yg penuh sperma dengan air sower, lalu mang Sardi menyuruhku memakai handuk dan tidur. Akupun naik ke atas dan ganti daster lalu tidur.

Selintas di jam dinding kamarku jam 9.30 malam, saya ga bisa tidur sama sekali, yg terlintas di bayanganku saat itu hanyalah kejadian demi kejadian hari itu yang betul2 pengalaman mengasikan yg dilakukan kami berdua yaitu saya dengan mang Sardi, dan setelah kejadian itu kami seringkali melakukannya disaat adeku dan ortuku tidak ada di rumah, terkadang mang Sardi saya ajak pura2 mengantarku pake mobil kesayanganku atau mobil papah dan kami melakukannya di berbagai tempat seperti dago, Lembang, Pangalengan dan tempat2 sejuk lainnya, tentu saja cari tempat yang aman tidak diketahui banyak orang, tapi sampai saat ini saya masih tulen perawan karena menurut mang Sardi, asal jangan dimasukin burungnya mamang, neng Dita akan tetap perawan, demikian tuturnya, lama-kelamaan saya jadi jatuh cinta sama mang Sardi yang terpaut jauh usia diatasku, karena mungkin saya mencari figur papah yg selama ini kerap sibuk dinas di pekerjaannya. terserah pembaca mau percaya atau tidak tapi yg saya ceritakan ini benar adanya , sudah dulu ya… ya Dita mau bobo nihh udah jam 01.30.. byeee

Cerita Sex Dewasa - Winda Cewek Kelas 2 SMA


Cerita Sex Dewasa - Winda Cewek Kelas 2 SMA – Winda, adalah ceweq kelas 2 sma, berumur 16 tahun, dia sangat cantik dan sexy, mukanya sepintas lalu mirip dengan Selma Blair, bibirnya ranum, kulitnya putih, kakinya jenjang, lehernya tinggi mulus dan dadanya lumayan montok.

Banyak cowoq yang suka sama Winda tapi, Winda belum bergeming karena masih memikirkan study. Orang tua Winda tidak terlalu kaya mereka bekerja kepada orang tua Susy, yang juga teman sekelas Winda. Susy selalu merasa iri dengan Winda, walaupun Susy cantik tapi cowoq2 lebih suka kepada Winda. Kalau bicara Susy selalu ketus kepada Winda, karena Susy menganggap orang tua Winda adalah anak buah ayahnya dan Winda secara otomatis drajatnya juga harus dibawah Susy, dan tidak seharusnya cowoq2 lebih suka ke Winda. Karena itu Susy selalu berusaha untuk merendahkan Winda di depan kawan2 sekelasnya. Susy mempunyai 3 orang kawan karib, yang merupakan anak dari rekan bisnis ayah Susy, mereka juga iri dengan Winda yang selalu jadi pusat perhatian.

Mereka berempat selalu mencari2 cara untuk merendahkan Winda, supaya cowoq2 tidak lagi suka pada Winda. Cara mereka sangat buruk, seringkali mereka memanggil Winda sebagai anak budak. Suatu hari mereka berempat mengundang Winda ke rumah Susy, sebenarnya Winda tidak mau, tapi karena mereka terus memaksa Winda tidak punya alasan lagi untuk menolak. Kira2 jam 2 siang Winda dengan masih memakai baju osis sampai di rumah Susy, yang sangat besar di daerah pondok Indah, dan ketika masuk rumah Susy, Winda melihat ternyata Susy itu sangat kaya raya, di rumah Susy yang luasnya hampir 5000m2 itu terdapat 5 mobil kelas atas di pekarangan dengan merek2 seperti Ferrari, BMW, Mercy new eyes, Land Cruiser, dan Innova. Winda juga kagum dengan pekarangan rumah Susy yang banyak sekali pohon. Susy juga punya 3 pembantu wanita, 1 tukang masak wanita, 1 tukan kebun dan 2 supir pribadi, pokoknya.

Lalu Winda di antar masuk oleh salah satu pembantu itu untuk menemui Susy, keruang keluarga lantai 2. Disana Susy dan ketiga kawanya sudah mengumpul sambil makan makanan kecil dan bermain kamera. Begitu melihat Winda, Susy langsung berkata nyampe juga loh, walau telat ampir satu jam, gua kira elu nyasar ato gak datang. Kebetulan nich gua lagi ngeliatin performance appraisal para staff babe gua, salah satunya adalah bapak elu, dan gua punya hak untuk kasih input ke babe gua sepanjang yang gua tahu, menurut elu performance bapak elu harus gua bilang bagus ato bapak elu harus gua saranin cari kerjaan lain yach ?

Winda tidak bisa menjawab saat itu dan matanya berkaca2 karena dia kebayang kalo ayahnya sampai di pecat keluarganya bisa hancur, ke-2 adiknya bisa putus sekolah karena tidak ada biaya, dan Winda sudah pasti tidak bisa ke perguruan tinggi. Belum sempat Winda menjawab, Susy bicara lagi sambil memegang kamera barunya, o iya, kebetulan gua punya hobby baru photography, karena elu merupakan benda yang menarik, gua mao elu jadi objek photo gua. Winda terdiam. Susy kemudian meneruskan kalimatnya untuk jadi objek photo gua, elu musti tukar baju, ini gua kasih baju, cepat tukar di kamar situ, sambil menunjuk ke arah kamar mandi. Winda menyadari bahwa pakaian yang di terimanya itu adalah sepasang bikini mungil warna putih. Lalu Winda masuk ke kamar mandi, sebenarnya Winda merasa berat hati dan malu mengenakan bikini mini putih itu di depan kawan2 sekelasnya, tapi dia merasa tidak bisa menolak. Selesai mengganti bajunya dan dengan memakai bikini mini yang tipis itu Winda merasa sangat terhina dan malu karena bikini itu sangat kecil dan tipis, di kaca kamar mandi Winda bisa melihat bahwa pentilnya menerawang samar2 dari balik bikini atasnya dan di tengah bikini bawahnya bagian depan samar2 ada warna hitam menerawang, sedangkan belahan pantatnya terpampang jelas dengan hanya satu tali menutupi belahan pantatnya. Winda hampir menangis saking merasa malunya melihat penampilannya di kaca. Tiba2 pintu kamar mandi terbuka dan Susy dan ke3 temannya ternyata membuka pintu kamar mandi dengan kunci serep, dan Susy langsung berkata pake nangis lagi, heh budak cepetan gua udah gak sabar ambil photo bugil elu nich. Teman Susy begitu melihat Winda langsung kasih komentar elu benar2 pantas pakai baju itu daripada baju sekolah elu, ini baju benar2 sesuai dengan drajat elu sebagai budak. Sebelum memberi instruksi lebih lanjut, Susy dan 3 kawannya memelototi tubuh Winda dari atas kebawah yang hanya terbalut 2 helai kain tipis, dan tampak wajah mereka menyeringgai ketika melihat bikini bawah Susy yang menawang warna hitam, mereka berkata wah jembutnya nongol tuch, tangan Winda secara refleks menutupi depan depan celana dalamnya, Winda merasa mukanya sangat panas. Oke kita mulai kata Susy, hayo Winda elu berdiri sebelah sana, ke-2 tangan elu di belakang kepala, kaki dibuka agak lebar dan rada jinjit, dengan malu2 Winda mengambil posisi itu, kemudian Susy mengambil beberapa photo Winda. Hayo sekarang photo berempat kata Susy kepada ke3 temanya, posisi Winda tetap seperti itu, kalian bertiga memegang tubuh Winda. Ria (temannya Susy) satu tangan kamu memegang paha kanan Winda sebelah atas dan jari2nya sedikit masuk ke dalam celana Winda kata Susy memberi instruksi. Angel kamu sama seperti Ria, tapi yang kamu pegang adalah paha kiri Winda, dan jari2 kamu juga masuk sedikit. Siska kamu berdiri di belakang Winda, sambil memegang ke-2 dua payudara Winda, Winda pertama berusaha menolak waktu tangan temannya mau memasukan ujung jarinya ke dalam celana dalamnya, tapi Susy membentaknya untuk jangan macam2, Winda merasa sangat risih, aneh, geli dan terhina di photo dalam posisi seperti ini, karena dia merasa Tangan kawannya menyentuh ujung bulu vaginanya dan menekan2 dadanya. Oke sekarang pemotretan ke-3 kata Susy posisi kalian ber-4 tetap seperti itu, tapi Winda harus melepas bikini atasnya, Siska tolong lepas bikini atas Winda. Winda mencoba untuk melawan ketika Siska mau melepas tali bhnya, tapi Susy mengingatkan kamu udah tahu apa yang harus saya taruh di diperformance bapak elu ? Terpaksa Winda pasrah saja BHnya dilepas oleh Siska, dada Winda teracung jelas putingnya yang coklat kemerahan kini tampak sedikit menegang, Susy dan ke-3 kawannya menyerigai melihat Winda yang telanjang dada dan terus mengamati dada Winda dengan komentar2 jorok. Winda hampir2 tidak kuat menahan perasaan malu dan terhina, berdiri didepan temannya dengan bertelanjang dada dengan hanya mengenakan sebuah bikini mini. Oke kita lanjutkan photo2 kita, tangan kamu Siska coba menutupi dada Winda. Ketika tangan Siska menyentuh puting payudara Winda yang terbuka, Winda hanya bisa mendesah geli2 enak bercampur malu. Siska lalu berkata wah Win, puting elu rasanya mengeras, Winda hanya bisa tertunduk malu tak berdaya. Sebelum photo ke-4 coba kalian berikan baby oil ini ke seluruh tubuh Winda. Ria, Siska dan Angel, mengusapkan baby oil ke seluruh tubuh Winda, tidak lupa mereka me-massage dada Winda. Saat itu ada 2 pembantu wanita Susy yang kebetulan naik ke lantai atas dan ikut menonton adengan photo ini. Winda merasa sangat malu ditonton oleh banyak orang dalam posisi seperti ini. Winda juga merasa geli dan nikmat ketika tangan kawannya meremas-remas dadanya dan memainkan pentilnya. Kawan2nya berteriak wah putingnya makin mengeras, Winda sangat seksi sekali saat itu, tubuhnya mengkilat oleh baby oil, dadanya menegang dan bulu vaginanya samar2 menyembul dari balik celana dalamnya. Oke sekarang kita melakukan session photo ke-4, dan photo ke-4 ini kita akan ambil di dekat kolam renang. Winda harus berjalan dengan bertelanjang dada dari lantai 2 rumah Susy ke lantai 1 dengan setengah dipaksa oleh kawan2nya serta ditertawakan oleh seluruh pembantu Susy. Winda mencoba menutupi payudaranya dengan ke-2 tangannya dari padangan para pembantu Susy terutama begitu samapai di kolam tampak ke 2 supir dan tukang kebun Susy yang tersenyum2 melihat pemandangan ini. Begitu sampai dipinggir kolam renang Susy memberi instruksi ke Winda untuk mengambil sapu untuk membersihkan seluruh pinggir kolam, dan Susy akan mengambil photo selama Winda menyapu. Susy benar2 seksi sekali saat itu, dengan hanya memakai sepotong bikini kecil yang menutupi vaginanya dia harus menyapu seluruh pinggir kolam dengan belasan padangan mata tidak berkedip ke arah payudara Winda yang bergoyang2 dengan indah. Winda sudah hampir nangis tak kuat menahan malu, Winda harus menyapu sambil bertelanjang dada kurang lebih selama 10 menit, sebelum Susy berkata stop. Susy berhasil mengambil kurang lebih 15 buah photo Winda yang bertelanjang dada. Lalu sambil duduk Susy meminta Ria dan Siska menarik Winda ke depannya, posisi celana dalam Winda pas di depan pandangan Susy sehingga gundukan hitam dibalik celana dalam Winda tampak lebih jelas, sambil duduk Susy mengelus2 bagian depan celana dalam Winda dengan depan dan belakang tangannya, sementara ke-3 teman Susy meremas2 dada Winda. Winda beusaha melawan karena dia merasa tidak pantas Susy menggosok2 vaginanya, tapi Susy membentak Winda dan menyuruh Winda kembali menaruh ke-2 tangannya ke belakang kepala. Winda hanya bisa meram saja menahan perasaan malunya dan geli. Setelah kurang lebih 3 menit menggosok2 Susy bertanya ke Winda gimana rasanya ? Winda tidak dapat menjawab dia hanya memejamkan matanya, karena dia berusaha menahan perasaan malu dan geli2 enak akibat semua bagian tubuhnya digerayangi. Tiba2 Susy memerintahkan Ria dan Siska untuk melepaskan celana Winda, dan memerintahkan Winda untuk tidak melawan. Winda sekarang benar2 telanjang bulat didepan kawan2nya, beruntung posisinya membelakangi para pembantu Susy. Bulu vagina Winda tampak menarik tidak terlalu lebat tapi cukup hitam dan tumbuh teratur membentuk suatu gundukan, bibir kemaluannya yang sudah mulai biasa tampak samar2. Susy sambil tertawa terus mengamati Winda yang sudah berdiri telanjang dihadapannya sambil sekali2 menyentuh ato memainkan tubuh telanjang Winda. Susy kemudian menyuruh Winda membalik badan menghadap ke para pembantunya tapi memperbolehkan Winda untuk menutupi Vaginanya dengan tangannya. Susy berkata elu itu pantasnya untuk tukang kebun ato supir gua, jangan coba2 saingan untuk dapetin cowoq2 di kelas tahu. Tampak jakun dari tukang kebun dan supir Susy naik-turun menahan nafsu melihat pemandangan seperti ini, para pembantu Winda bersorak, wah non ini mah udah kayak behind the scenenya film blue. Dan Winda merasa seperti mau pingsan saking malunya. Susy kemudian menyuruh Winda untuk berlari mengelilingi kolam renang dengan bertelanjang bulat. Susy kembali mengambil kamera dan mengambil gambar Winda yang sudah telanjang bulat. Winda berusaha sebisa mungkin berlari sambil menutupi vaginanya dengan tangan. Sewaktu Winda lari, ternyata adik Susy, si Joni yang kelas 3 SMP sudah pulang kerumah dengan 2 kawannya, Arif dan Joko. Mereka langsung ikut nimbrung menonton adengan Winda berlari mengelilingi kolam tanpa sehelai benangpun, hanya tangan Winda saja yang dipakai untuk menutupi auratnya. Keringat Winda sudah bercucuran saat itu karena lelah berlari sehingga membuat payudaranya tampak berkilat. Joni dan ke-2 kawannya mendekati Susy dan membisiki Susy untuk memberi perintah agar Winda berhenti berlari dan hanya berjalan ditempat saja dihadapan mereka. Muka Winda kembali terasa panas ketiga bertatapan mata dengan Joni dan ke-2 kawannya yang terus menyeringgai. Joni kemudian kembali membisiki Susy untuk meminta Winda melompat2 di depan mereka, Winda terpasak melompat walaupun sudah sangat letih sehabis berlari. Joni dan kawan2 cukup menikmati payudara Winda yang bergoyang2 walaupun tangan Winda tetap menutupi vaginanya. Kemudian Susy kembali memberi perintah Winda untuk mendekat ke-tempat duduknya sehingga posisi Vaginanya yang tertutp tangan kurang lebih pas di depan pandangan Susy. Susy memerintahkan Winda untuk menaruh tangannya kembali diatas kepala. Sehingga aurat Winda terpampang jelas, Winda bisa mendengar dengan jelas decak kagum Joni dan ke-2 kawannya yang mengomentari tubuhnya yang tanpa tertutup oleh sehelai benangpun. Kata2 kotor terdengar dengan jelas, Joni berkata kepada Susy, Sus gua rasa ini budak perlu dibikin orgasme. Winda saat itu hanya bisa pasrah, muka Winda terasa panas saat itu. Susy kemudian mulai menyentuh dan memainkan vagina Winda yang masih perawan dengan jari tangannya dengan sedikit memasuk2kan, mengorek2 dan mengosok2kan jari tangannya ke vagina Winda, Winda hanya bisa pasrah dan memeramkan matanya saja sambil merasakan berbagai macam sensasi saat itu, vaginanya terasa sakit, perih dan geli, enak sementara belasan pasang mata terus mengamati tubuh telanjang Winda yang tidak berdaya, pandangan mereka terarah ke vagina Winda. Susy kemudian membentak buka mata elu gua mau melihat penderitaan elu dari mata elu. Winda terpaksa membuka matanya merasakan vaginannya dipermainkan. Mereka tertawa melihat mata Winda yang kadang berkedip2 dengan mulut terbuka menahan rasa geli di vaginannya. Setelah kurang lebih 4 menit, vagina Winda sudah makin basah, Susy memerintahkan temannya untuk mengambil vibrator dan meletakannya vibrator tersebut di vagina Winda, Winda merasa sangat geli dan mulai merengah dan mengerang2, sekali2 Susy mematikan vibratornya supaya efeknya makin lama, dan Winda bisa lebih sadar bahwa semua orang memperhatikannya sehingga menambah perasaan malunya, setelah kurang lebih 30 menit akhirnya Winda pun mencapai puncak orgasmenya, cairan bening keluar membasahi vibrator. Susy dengan sinis berkata enak luch yach gua bikin orgasme. Winda merasa sangat lemas dan malu karena ini pertama kalinya dia orgasme dengan bertelanjang bulat di depan beberapa pasang mata yang menatapnya. Susy dan kawan2 kemudian berkata kepada para pembantunya, gua naik dulu lapar mao makan, tolong anak ini dimandiin dan setelah selesai suruh naik ke atas ke ruang makan. Winda dalam keadaan telanjang bulat ditinggal begitu saja dengan para pembantunya Susy. Winda berusaha menutupi vaginanya dengan kedua tangannya, sementara para pembantu itu menarik Winda kedekat selang air untuk disemprot dan dimandiin. Para pembantu Winda yang berjumlah 3 itu mulai menyemprot Winda dengan selang air, kumudian mulai menyabuni tubuh Winda, Winda merasa sangat geli dan aneh ketika tangan2 itu menyentuh tubuhnya untuk menyabuni rambut kepalanya, lehernya, punggungnya, ketiaknya, perutnya, payudara, betisnya, pahanya dan sela2 pahanya, tapi Winda tetap kekeh untuk menutup vaginanya dengan ke-2 tangannya. Sementara itu para supir sudah pergi melaksanakan tugas, hanya tukang kebun saja yang sembari membersihkan kebun terus mencoba melirik kearah Winda yang sedang dimandikan.

Setelah selesai, salah satu pembantu itu berkata mbak Winda sudah ditunggu non Susy, mbak disuruh naik keatas. Winda terpaksa berjalan kelantai atas dengan telanjang bulat dan basah, karena setelah mandi dia tidak dikasih handuk, Winda mencoba berjalan dengan berat hati ke lantai 2, berbagai macam perasaan marah, malu, terhina berkecamuk dalam hatinya, belum lagi rumah Susy yang memakai AC central yang distel cukup dingin.membuat Winda yang keletihan dan kedinginan itu beberapa kali menggigil kedinginan. Sesampainya Winda di kamar makan, Susy dkk ternyata baru selesai makan. Begitu melihat Winda, Susy dkk kembali menyeringgai dan kembali memperhatikan tubuh Winda yang telanjang dan basah dengan pandangan merendahkan, Winda hanya bisa berusaha tabah menghadapi cobaan ini. Lalu Susy berkata wah makanannya sudah habis, supaya elu jangan sakit elu makan makanan sisa dari piring gua aja dech, hayo kawan2 kumpulkan makanan sisa kalian jadi satu biar Winda yang menghabiskannya. Mereka lalu memberikan satu piring makanan sisa ke Winda dan meminta Winda untuk makan dilantai, Susy dan kawan2 nya kembali memperhatikan tubuh telanjang Winda yang sedang makan dengan terpaksa. Tiba2 bruno dan Blacky anjing herder Susy muncul, melihat ada orang asing di rumahnya Bruno langsung menyalak dan mengancam Winda, ternyata bruno dan Blacky tidak menggigit mereka hanya menjilat2 tubuh Winda untuk berkenalan, anjing2 itu menjilati tubuh Winda, payudara Winda dan juga vagina Winda, teman2 Winda tertawa melihat Winda yang sedang telanjang bulat sangat ketakutan dan jatuh bangun diterjang anjing2 itu, Susy berkali2 mengambil foto Winda ketika ke-2 anjing itu menjilat2 vagina Winda.

Kemudian Susy dan kawan2 berunding keras2, habis ini kita bikin acara apa yach ? photo2 sudah, acara lari bugil sudah, apa lagi yach yang bisa bikin Winda tambah malu ? Kita botakin saja rambutnya ato cukur bulu kemaluanya kata Siska menimpali. Ato kita undang teman2 sekelas kerumah elu Sus, kata Ria memberikan usul, jangan2 kata Angel gua punya ide lebih baik, gimana kalo ke-2 adik Winda saja si Rudy dan Dewi yang kita undang, dan kita paksa mereka melihat tubuh telanjang kakaknya yang tercinta, supaya mereka juga memandang rendah Winda. Winda hanya bisa pasrah sambil menggigil membayangi apa yang akan terjadi kedirinya berikutnya. Tapi ternyata kemudian tiba2 ibu Susy yang baru pulang arisan muncul dengan 2 orang temannya, yang terpesona melihat seorang ceweq cantik dalam keadaan tanpa busana, sedang dikerjain oleh anaknya. Ibu Susy kemudian menegur Susy agar jangan mempermainkan Winda.

Kemudian dengan berlagak baik dia merangkul Winda sambil tidak lupa menjamah payundara Winda, kemudian mereka menduduki Winda di sofa yang tetap dalam keadaan telanjang. Ibu Susy dan kawan2 mengajukan pertanyaan ke Winda, sementara mata mereka dengan rakus dan senyum menyeringgai tetap memandang tubuh terlanjang Winda, terutama vaginanya yang ditumbuhi oleh rambut halus yang rapih sehingga bibir kemaluannya tampak samar2, sehingga vagina Winda tampak sangat seksi. Setelah beberapa saat, ke-2 ibu ini yang ternyata ada bakat lesbiah mulai aggresive mengerayangi tubuh Winda. Mula2 mereka berlagak akrab dengan menaruh tangan mereka di paha Winda, kemudian memegang perut Winda, setelah itu tangan mereka merayap naik ke atas menjamah payudara Winda. Winda terkejut, karena dia mengira ibu Susy dan temannya bermaksud akan menolongnya, dia tidak menyangka bahwa mereka mulai memainkan tubuhnya juga. Untuk mengalihkan perhatian Winda, Ibu Susy kemudian kembali menanyakan beberapa pertanyaan, seperti apakah Winda pernah berhubungan sex, atau pernah telanjang sebelumnya dan beberapa pertanyaan lain, Winda menjawab tidak tapi ibu Susy mendikte dia untuk menjawab iya. Sementara Winda berusaha berkonsentrasi menjawab pertanyaan ibu Susy, ke-2 ibu tadi dengan leluasa memainkan payudara dan vagina Winda, Mereka menghisap payudara Winda kemudian mengorek2 vagina Winda, ato sesekali mencabut bulu kemaluannya yang mebuat Winda kesakitan. Setelah kurang lebih lima menit tangan ibu tadi menempel dan mengorek2 kemaluannya Winda mulai merasakan suatu sensasi, perasaan geli dan nikmat di vaginanya sehingga kelentit vaginanya dan puting susunya kembali menegang, sehingga dia tidak mampu lagi menjawab pertanyaan2 ibu Susy, sementara ke-2 wanita itu mengetahui bahwa Winda sudah sangat terangsang, tambah cepat mengocok vagina Winda, para ibu tadi mengorek2 vagina Winda dan menjilati payudaranya, Winda hanya bisa terengah2 dengan disaksikan beberapa pasang mata, tidak lama kemudian cairan lengket kembali menyemprot dari vagina Winda, Winda mencapai orgasme ke-2 dengan diperhatikan oleh beberapa pasang mata. Setelah itu Susy memperbolehkan Winda untk pulang sambil berkata bahwa setelah hari ini Winda akan jadi terkenal, berkat foto2nya

Cerita Sex Dewasa Merenggut Paksa Keperawanan Sang Keponakan


Cerita Sex Dewasa Merenggut Paksa Keperawanan Sang Keponakan – Hari itu kebetulan rumah sedang sepi. karena istriku baru ada acara di rumah saudara nya di daerah Semarang dan akan kembali seminggu lagi. Plus pembantuku yang turut menemaninya. Praktis alu sendirian kalau lagi di rumah.

Sehabis dari kantor sore itu aku pulang dan sesampainya di dalam rumah kulihat sesosok perempuan berjilbab putih lengkap dengan seragam putih abu-abunya yang serba panjang. Dialah keponakanku Rika yang sedang tertidur di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala. Oh iya si Rika masih kelas 1 SMK. Dia sering main ke rumahku selepas pulang sekolah, jadi nya dia bebas keluar masuk rumah. Kulihat Rika yang tertidur di sofa dengan rok abu-abu panjang semata kaki namun agak ketat sehingga sepasang pahanya yang indah nampak terlihat sekal dari balik roknya. Dadanya yang mulai ranum berkembang nampak membusung dari balik hem putih OSIS lengan panjangnya. Melihat pemnandangan seperti itu bangkitlah birahiku.

Perlahan kudekati Rika dan duduk di samping nya sambil kuusap-usap pahanya yang sekal dari luar rok abu-abu semata kaki yang dipakainya. Dengan penuh perasaan kuraba-raba pahanya hingga naik terus sampai ke pangkal pahanya.

Cerita Sex – Kemudian dengan sangat hati-hati kusingkap rok seragam abu-abu panjangnya keatas hingga tampak celana dalam Rika yang berwarna putih krim, Selaras sekali dengan pahanya yang putih mulus.
Setelah kusingkap roknya perlahan kuraba belahan vagina keponakanku yang berjilbab putih itu dari luar celana dalamnya.

Sewaktu aku asyik meraba-raba kemaluannya, Rika terbangun dari tidurnya dan kaget melihat rok abu-abu panjang yang dikenakannya sudah tersingkap dan nampak olehnya aku yang sedang meraba-raba vaginanyanya.

”Jjaangannn..ommmm….jangannnn,,,jangan…”, seraya mencoba berdiri dari sofa.

Sebelum Rika berhasil berdiri dari sofa buru-buru kutindih tubuhnya hingga terhimpit tubuhku sambil membungkam mulutnya dengan tanganku, dsn tanganku yang satunya meraih celana dalam siswi jilbab ini. “Brettt…”, kutarik celana dalam Rika hingga sobek.lalu kugosok kemaluan keponakanku ini dengan jemariku. Setelah 15 menit kugosok-gosok kemaluannya dengan jari hingga terasa basah, kulepas pakaianku hingga telanjang.

Penisku yang sudah keras tegak mengacung langsung kuarahkan ke vagina Rika yang telentang di sofa. Keponakanku berjilbab putih dan masih lengkap mengenakan seragam sekolahnya namun sudah tersingkap rok abu-abu panjangnya sepinggang menangis sejadi-jadinya tatkala kutekan penisku masuk membelah gundukan vagina yang masih perawan itu.
Baru kepala penisku mulai penetrasi masuk kulihat Rika menjerit kesakitan.

“Aaaakkkhhh,,,!”, namun jeritannya tertahan karena terlebih dahulu kubungkam dengan tanganku. Gadis cantik berjilbab putih ini hanya bias menangis seraya mengeleng-gelengkan kepalanya menahan sakit yang timbul dari perbuatanku. Kupaksa batang kemaluanku untuk masuk lebih dalam ke liang surganya Rika.
Setengah batang penisku sudah masuk menembus liang vaginanya, dan terasa ada sesuatu yang mengalir di sela-sela vaginanya. Ternyata darah perawan siswi berjilbab keponakanku ini mengalir hinga membasahi sofa ruang tamuku.

Akhirnya dengan usaha sekuat tenaga penisku terbenam juga seluruhnya. Sesaat kudiamkan di dalam seraya meresapi betapa nikmatnya jepitan nan hangat liang surga milik Rika.
”Ssshhh…ohh,,,nikmattt banget punya kamu Rikaaahh…..oohhh”, racauku sembari mulai menggenjot vagina siswi berjilbab putih keponakanku ini.

“Ukkkhh…hehhh…”, desah Rika seakan membalas racauanku seraya mengeleng-gelengkan kepala yang masih terbalut jilbab putihnya. Air matanya nampak mengucur deras dari kedua kelopak matanya yang terpejam menahan perih persetubuhan paksa ini.

Cerita Sex – Setelah 5 menit menyetubuhi Rika dengan gaya missionary, tanpa mencabut penisku dari liang surgawi Rika, kubalik tubuhnya dan kuposisikan agar menungging dan kedua tangannya bertumpu pinggiran sofa. “Awas kalau kamu teriak om bunuh!’, ancamku lagi.
Setelah pas posisinya menungging, kusibakkan lagi rok abu-abu panjangnya sepinggang. Begitu indah pemandangan di hadapanku ini. Keponakanku yang masih mengenakan jilbab putih serta hem putih lengan panjangnya namun rok rok abu-abu panjangnya sudah tersingkap sepinggang hingga kemontokan belahan pantatnya yang putih mulus seakan menantang untuk minta disodok sejadi-jadinya. Lalu seraya mencengkeram bongkahan pantat yang padat nan kenyal itu kumulai menyodok-nyodok liang surgawinya dari belakang. “Oouhh…aaakkhh..ampunnnnn ommmm…sakittttttt…sakiittttt!”, teriaknya tatkala hentakan keras penisku menghujam keras dari belakang. Wajahnya yang manis terbalut jilbab putih nampak mendongak dan meringis kesakitan. Lalu disela-sela genjotanku kuremas-remas buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya

“SShhh..oooohhhhh,,,ooohhhhh enak bangetttt memekmu Rikaaaa,,,,”, racauku sembari memeluknya dari belakang dan meremas bongkahan buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya.

“Aaahhh…uuhhhh…”, desahnya dengan mata terpejam seraya kedua tangannya mencengkeram pinggiran sofa kuat-kuat.

Hampir 20 menit kugenjot keponakan berjilbabku ini dengan posisi kesukaanku ini. Dan nampak ia makin kepayahan. Hem dan jilbab putihnya sudah awut-awutan. Begitu pula rok abu-abu panjang semata kaki yang kusingkapkan sepinggang. Semuanya sudah nampak lepek basah oleh keringat persetubuhan terlarang ini.

Akupun merasa akan mendekati puncaknya. Sudah terasa spermaku bergejolak mendesak untuk keluar dari sarungnya. Lalu seraya mencengkeram kepalanya yang berjilbab kutarik tubuh Rika hingga merapat ketubuhku hingga kini posisi kami duduk berpangkuan dengan tubuh Rika yang membelakangiku.

Kupercepat sodokanku hingga bunyi benturan pantat keponakanku dengan selangkanganku semakin terdengar kencang,“Plakk…ceplakk!”. “Uhh…Rikkahh!”, seruku sejadi-jadinya menahan nikmat hendak mencapai klimaks seraya mencengkeram dan meremas kuat-kuat kedua payudara siswi berjilbab keponakanku. Rika yang sedang kugenjot dalam kecepatan penuh ini dari belakang hanya biasa merintih-rintih seraya memegangi kedua pergelangan tanganku yang sedang meremas-remas kedua buah dadanya.

Tubuh Rika yang sudah amat kepayahan menghadapi serangan penisku mendadak mendadak bergetar hebat. Tubuhnya melengkung kebelakang hingga kepalanya yang berbalut jilbab putih itu menempel di pundakku. Nampaknya dia telah mencapai puncak orgasmenya. Dan bersamaan dengan itu pula, “ Aaahh…Riikkaahh…nniihhh!!”, akupun mencapai puncak orgasme sembari menyodok dalam-dalam penisku ke dalam liang surga Rika.
”Crrooottt,,.crooot….crottt”, spermaku menyembur kedalam rahimnya bercampur dengan cairan kewanitaan yang juga menyembur berbarengan

Lalu kami berdua tersungkur lemas diatas sofa dengan posisi tubuhku menindihnya dari belakang.
Setelah beberapa saat tenagaku pulih, aku bangkit seraya mencabut penisku dari lubang kemaluan keponakan berjilbabku ini, seraya berkata, “Awas kalau Rika berani bilang siapa-siapa”, ancamku sambil memakai pakaian gue yang berserakan di lantai.
”Sekarang mandi sana biar segar”, titahku padanya yang masih tertunduk letih dan lemah di pinggir sofa. Perlahan siswi berjilbab keponakanku itu bangkit dan pergi ke kamar mandi dengan seragam sekolahnya yang sudah awut-awutan serta ada noda darah dan sperma menempel di ujung kain rok abu-abu semata kakinya.

Cerita Sex – Sembari tersenyum penuh kemenangan kutepuk pantatnya yang bahenol itu, sembari mengingatkan, “Ingat, mulai besok kamu harus sering-sering nginep disini. Om masih pengen terus menikmati memekmu yang hangat itu.” Dan dengan tatapan kosong, keponakanku yang berjilbab itu hanya mengangguk lemah tanpa mengucap sepatah katapun. Cerita seks Merenggut Paksa Keperawanan Sang Keponakan – Hari itu kebetulan rumah sedang sepi. karena istriku baru ada acara di rumah saudara nya di daerah Semarang dan akan kembali seminggu lagi. Plus pembantuku yang turut menemaninya. Praktis alu sendirian kalau lagi di rumah.
Sehabis dari kantor sore itu aku pulang dan sesampainya di dalam rumah kulihat sesosok perempuan berjilbab putih lengkap dengan seragam putih abu-abunya yang serba panjang. Dialah keponakanku Rika yang sedang tertidur di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala. Oh iya si Rika masih kelas 1 SMK. Dia sering main ke rumahku selepas pulang sekolah, jadi nya dia bebas keluar masuk rumah. Kulihat Rika yang tertidur di sofa dengan rok abu-abu panjang semata kaki namun agak ketat sehingga sepasang pahanya yang indah nampak terlihat sekal dari balik roknya. Dadanya yang mulai ranum berkembang nampak membusung dari balik hem putih OSIS lengan panjangnya. Melihat pemnandangan seperti itu bangkitlah birahiku.

Perlahan kudekati Rika dan duduk di samping nya sambil kuusap-usap pahanya yang sekal dari luar rok abu-abu semata kaki yang dipakainya. Dengan penuh perasaan kuraba-raba pahanya hingga naik terus sampai ke pangkal pahanya.

Kemudian dengan sangat hati-hati kusingkap rok seragam abu-abu panjangnya keatas hingga tampak celana dalam Rika yang berwarna putih krim, Selaras sekali dengan pahanya yang putih mulus.
Setelah kusingkap roknya perlahan kuraba belahan vagina keponakanku yang berjilbab putih itu dari luar celana dalamnya.

Sewaktu aku asyik meraba-raba kemaluannya, Rika terbangun dari tidurnya dan kaget melihat rok abu-abu panjang yang dikenakannya sudah tersingkap dan nampak olehnya aku yang sedang meraba-raba vaginanyanya.

”Jjaangannn..ommmm….jangannnn,,,jangan…”, seraya mencoba berdiri dari sofa.

Sebelum Rika berhasil berdiri dari sofa buru-buru kutindih tubuhnya hingga terhimpit tubuhku sambil membungkam mulutnya dengan tanganku, dsn tanganku yang satunya meraih celana dalam siswi jilbab ini. “Brettt…”, kutarik celana dalam Rika hingga sobek.lalu kugosok kemaluan keponakanku ini dengan jemariku. Setelah 15 menit kugosok-gosok kemaluannya dengan jari hingga terasa basah, kulepas pakaianku hingga telanjang.

Penisku yang sudah keras tegak mengacung langsung kuarahkan ke vagina Rika yang telentang di sofa. Keponakanku berjilbab putih dan masih lengkap mengenakan seragam sekolahnya namun sudah tersingkap rok abu-abu panjangnya sepinggang menangis sejadi-jadinya tatkala kutekan penisku masuk membelah gundukan vagina yang masih perawan itu.
Baru kepala penisku mulai penetrasi masuk kulihat Rika menjerit kesakitan.

“Aaaakkkhhh,,,!”, namun jeritannya tertahan karena terlebih dahulu kubungkam dengan tanganku. Gadis cantik berjilbab putih ini hanya bias menangis seraya mengeleng-gelengkan kepalanya menahan sakit yang timbul dari perbuatanku. Kupaksa batang kemaluanku untuk masuk lebih dalam ke liang surganya Rika.
Setengah batang penisku sudah masuk menembus liang vaginanya, dan terasa ada sesuatu yang mengalir di sela-sela vaginanya. Ternyata darah perawan siswi berjilbab keponakanku ini mengalir hinga membasahi sofa ruang tamuku.

Akhirnya dengan usaha sekuat tenaga penisku terbenam juga seluruhnya. Sesaat kudiamkan di dalam seraya meresapi betapa nikmatnya jepitan nan hangat liang surga milik Rika.
”Ssshhh…ohh,,,nikmattt banget punya kamu Rikaaahh…..oohhh”, racauku sembari mulai menggenjot vagina siswi berjilbab putih keponakanku ini.

“Ukkkhh…hehhh…”, desah Rika seakan membalas racauanku seraya mengeleng-gelengkan kepala yang masih terbalut jilbab putihnya. Air matanya nampak mengucur deras dari kedua kelopak matanya yang terpejam menahan perih persetubuhan paksa ini.

Setelah 5 menit menyetubuhi Rika dengan gaya missionary, tanpa mencabut penisku dari liang surgawi Rika, kubalik tubuhnya dan kuposisikan agar menungging dan kedua tangannya bertumpu pinggiran sofa. “Awas kalau kamu teriak om bunuh!’, ancamku lagi.
Setelah pas posisinya menungging, kusibakkan lagi rok abu-abu panjangnya sepinggang. Begitu indah pemandangan di hadapanku ini. Keponakanku yang masih mengenakan jilbab putih serta hem putih lengan panjangnya namun rok rok abu-abu panjangnya sudah tersingkap sepinggang hingga kemontokan belahan pantatnya yang putih mulus seakan menantang untuk minta disodok sejadi-jadinya. Lalu seraya mencengkeram bongkahan pantat yang padat nan kenyal itu kumulai menyodok-nyodok liang surgawinya dari belakang. “Oouhh…aaakkhh..ampunnnnn ommmm…sakittttttt…sakiittttt!”, teriaknya tatkala hentakan keras penisku menghujam keras dari belakang. Wajahnya yang manis terbalut jilbab putih nampak mendongak dan meringis kesakitan. Lalu disela-sela genjotanku kuremas-remas buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya

“SShhh..oooohhhhh,,,ooohhhhh enak bangetttt memekmu Rikaaaa,,,,”, racauku sembari memeluknya dari belakang dan meremas bongkahan buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya.

“Aaahhh…uuhhhh…”, desahnya dengan mata terpejam seraya kedua tangannya mencengkeram pinggiran sofa kuat-kuat.

Hampir 20 menit kugenjot keponakan berjilbabku ini dengan posisi kesukaanku ini. Dan nampak ia makin kepayahan. Hem dan jilbab putihnya sudah awut-awutan. Begitu pula rok abu-abu panjang semata kaki yang kusingkapkan sepinggang. Semuanya sudah nampak lepek basah oleh keringat persetubuhan terlarang ini.

Akupun merasa akan mendekati puncaknya. Sudah terasa spermaku bergejolak mendesak untuk keluar dari sarungnya. Lalu seraya mencengkeram kepalanya yang berjilbab kutarik tubuh Rika hingga merapat ketubuhku hingga kini posisi kami duduk berpangkuan dengan tubuh Rika yang membelakangiku.

Kupercepat sodokanku hingga bunyi benturan pantat keponakanku dengan selangkanganku semakin terdengar kencang,“Plakk…ceplakk!”. “Uhh…Rikkahh!”, seruku sejadi-jadinya menahan nikmat hendak mencapai klimaks seraya mencengkeram dan meremas kuat-kuat kedua payudara siswi berjilbab keponakanku. Rika yang sedang kugenjot dalam kecepatan penuh ini dari belakang hanya biasa merintih-rintih seraya memegangi kedua pergelangan tanganku yang sedang meremas-remas kedua buah dadanya.

Tubuh Rika yang sudah amat kepayahan menghadapi serangan penisku mendadak mendadak bergetar hebat. Tubuhnya melengkung kebelakang hingga kepalanya yang berbalut jilbab putih itu menempel di pundakku. Nampaknya dia telah mencapai puncak orgasmenya. Dan bersamaan dengan itu pula, “ Aaahh…Riikkaahh…nniihhh!!”, akupun mencapai puncak orgasme sembari menyodok dalam-dalam penisku ke dalam liang surga Rika.
”Crrooottt,,.crooot….crottt”, spermaku menyembur kedalam rahimnya bercampur dengan cairan kewanitaan yang juga menyembur berbarengan

Lalu kami berdua tersungkur lemas diatas sofa dengan posisi tubuhku menindihnya dari belakang.
Setelah beberapa saat tenagaku pulih, aku bangkit seraya mencabut penisku dari lubang kemaluan keponakan berjilbabku ini, seraya berkata, “Awas kalau Rika berani bilang siapa-siapa”, ancamku sambil memakai pakaian gue yang berserakan di lantai.
”Sekarang mandi sana biar segar”, titahku padanya yang masih tertunduk letih dan lemah di pinggir sofa. Perlahan siswi berjilbab keponakanku itu bangkit dan pergi ke kamar mandi dengan seragam sekolahnya yang sudah awut-awutan serta ada noda darah dan sperma menempel di ujung kain rok abu-abu semata kakinya.

Sembari tersenyum penuh kemenangan kutepuk pantatnya yang bahenol itu, sembari mengingatkan, “Ingat, mulai besok kamu harus sering-sering nginep disini. Om masih pengen terus menikmati memekmu yang hangat itu.” Dan dengan tatapan kosong, keponakanku yang berjilbab itu hanya mengangguk lemah tanpa mengucap sepatah katapun.

Cerita Dewasa Bimbingan Nikmat dengan Ibu Dosen



Cerita Dewasa Bimbingan Nikmat dengan Ibu Dosen – kali ini aku akan berbgai cerita pengalaman nyata yang aku alami sendiri atau bisa dibilang kisah nyata. aku merupakan seorang mahasiswa yang hampir dibilang Do maklum aku mahasiswa males,,hehehe. Malam itu semua materi bimbingan telah aku siapakan dan sudah aku masukkan ke dalam ransel karena malam ini aku ada janji bimbingan dengan dosem pembimbing Taku.
aku adalah seorang mahasiswa angkatan tua. Sudah 7 tahun aku kuliah sampai-sampai dosen pembimbing TA ku diganti karena harus melanjutkan study keluar negeri. Sisi baiknya, sang dosen pengganti adalah seorang wanita cantik yang mungkin usianya hanya terpaut 2-3 tahun dari umurku. Maklum lah, aku sendiri sudah berumur 25 tahun saat ini.
Bu Laras, begitulah kami biasa memanggilnya. Seorang wanita muda yang tak hanya cerdas dan penuh kharisma namun juga cantik dan modis. Beliau resmi mengajar di fakultas kami baru 1 semester. Tapi dengan berjuta keanggunan itu, tak heran jika beliau langsung dikenal & dikagumi oleh seluruh penghuni kampus.
Minggu ini, Bu Laras cuti sakit. kabarnya gejala thypus yang disertai maag. Suatu berita yang sangat buruk bagi kelas yang diajarnya, karena selama beliau cuti, tentu saja anak-anak tidak bisa bertatap muka dengan bu dosen yang katanya menjadi semangat belajar mahasiswa.
Tapi hal ini lain bagi mahasiswa TA bimbingan Bu Laras. Kemarin pagi Bu Laras mengirimkan e-mail yang mempersilahkan seluruh mahasiswa bimbingannya mengirimkan pekerjaan masing-masing via e-mail, kemudian beliau menjadwalkan kami untuk bimbingan di rumahnya selama beliau cuti. Sungguh seorang dosen yang sempurna. Cantik, cerdas dan penuh integritas.
***
“blok C3 nomer 21”, begitu aku membaca kembali sms yang berisi alamat Bu Laras. Tak terasa aku telah sampai di perumahan Griya Pesona, dan tinggal 1 blok lagi aku telah sampai di kediaman beliau.
“sebelah kiri jalan, gerbang merah maroon”, kataku dalam hati sambil memarkirkan motorku didepannya. Rumah itu tidak terlihat megah, tapi terlihat sangat rapi. Kombinasi warna lampu tamannya terlihat sangat menarik dimataku.
Dan seolah tidak ingin membuang-buang waktu lagi, aku bergegas memencet bel dibalik gerbangnya.
“selamat malam” begitu sambut sosok pemilik rumah yang sudah kukenal baik itu. Dan tak lama kemudian, kami sudah duduk berhadapan di ruang tamu yang ukurannya juga tidak terlalu luas.
Malam itu Bu Laras mengenakan atasan tanpa lengan berwarna hitam, dengan bawahan celana ketat berwarna abu-abu. Sungguh padu padan yang pas sekali, terlihat sexy tetapi tidak menyirnakan keanggunannya. Sangat cantik.
“kamu tadi tidak kehujanan kan?” tanyanya membuka pembicaraan.
“tidak Bu. Ibu sudah sehat?” kataku basa-basi
“ah, saya sebenarnya juga tidak merasa sakit kok” jawabnya sambil tersenyum dan menyalakan netbook-nya.
“Dhimas Perdana, HC04XXXXX, betul kan?” katanya sambil membuka file pekerjaanku, dan aku pun mengangguk meng-iya-kan.
“nah, saya harus mengatakan kepadamu bahwa kamu selalu mengulang kesalahan yang sama. Sekarang kamu baca hasil pekerjaanmu dan silahkan bertanya kalau ada yang belum paham” katanya sambil memutar netbook berisi draft TA yang penuh coretan-coretan highlight itu kearahku
“seperti yang sudah saya katakan kemarin, sebaiknya tulisanmu jangan bertele-tele. Gunakan sumber materi yang valid dan jangan menuliskan pendapatmu sendiri kedalam dasar teori. Kalau kamu ingin mengutip, blablabla…”
Begitulah Bu Laras menelanjangi hasil kerjaku seolah semua yang kukerjakan penuh kesalahan. Sekilas aku melirik wajah cantik yang penuh ekspresi itu, dan memang semua yang dikatakanya tidak salah.
“maaf Bu, kalau mengenai paragraf ini, kira-kira yang salah bagian mana?” kataku sedikit memotong pembicaraannya sambil menghadapkan netbook itu kearahnya
“nah, kalau yang ini mengenai penggunaan kalimatnya. Kalimat ini mengandung makna yang sama persis dengan bagian ini,” begitu katanya sambil menyorot beberapa kalimat dibawahnya
“maaf bu, boleh saya duduk disitu, soalnya dari sini kurang jelas” begitu sahutku sambil menunjuk bangku panjang yang diduduki Bu Laras
“ya silahkan” katanya sambil menggeser posisi duduknya.
Cerita Dewasa – Dan akhirnya malam itu kulewati dengan duduk bersanding Bu Laras sambil mendengarkan ceramahnya.
Malam minggu, hujan gerimis mulai turun, dan duduk bersanding Bu Laras. “What a perfect weekend” begitu kataku dalam hati. Dan tentu saja kalimat-kalimat yang terdengar dari bibir tipis itu tidak sepenuhnya lagi kusimak. aku lebih memperhatikan gerak bibirnya dari belakang sambil menikmati kecantikannya parasnya.
“ada pertanyaan lagi?” katanya mengakhiri penjelasannya
“ehm, tidak bu” jawabku cepat
“kamu ini sebenarnya sudah paham, tapi kurang serius saja menulisnya. Tolong yang serius yak,, kasihan penelitianmu. Kabarnya TA ini sudah 4 semester tidak kamu kerjakan ya?”
“hehe,, kan yang 1 tahun cuti Bu.. jawabku sekenanya”
“apa bedanya??? Ya pokoknya saya harap semester ini kamu selesaikan. Kalau tidak, silahkan cari pembimbing lain saja” kata Bu Laras dengan nada tegas.
“ngomong-ngomong kamu mau minum apa? Saya buatkan kopi sambil nunggu hujan reda ya?” kata Bu Laras sambil beranjak berdiri
“What a super perfect weekend!! Sekarang malah acara ngopi bersama Bu Laras ” begitu kataku dalam hati dengan polos.
Dan satu hal lagi kusadari ketika Bu Laras beranjak menuju dapur. Tampak jelas ketika beliau lewat didepan mataku, celana abu-abunya mencetak jelas belahan pantatnya.
“masa’ Bu Laras gak pake CD yak??” begitu kira-kira pikiran jorokku tiba-tiba muncul dan segera kutepis jauh-jauh. Beliau termasuk dosen yang kuhormati, so, sepertinya tidak pantas kalau aku berpikiran yang aneh-aneh seperti itu
***
“Ngomong-ngomong, kamu asli mana dim?”.. tiba-tiba Bu Laras sudah muncul lagi membuyarkan lamunanku. “Katanya kamu buka usaha konveksi ya?” lanjutnya sambil meletakkan cangkir kopi didepanku
“Iya bu. Usaha clothing kecil-kecilan. Saya asli Surabaya Bu. Kalau Ibu asli mana?” kataku menanggapi.
“Saya kecil di Medan, tapi sudah pindah sini sejak kuliah S1 dulu. Katanya usaha clothing kamu sudah kirim kemana-mana ya??? memang mahasiswa kalau sudah kenal duit biasanya jadi susah lulus.” sahutnya sambil tertawa kecil.
Dan akhirnya malam itu kami lewati dengan pembicaraan-pembicaraan ringan tentang bisnis yang sedang kujalankan, tentang hobby kami, tentang keluargaku, tentang keluarga Bu Laras, dll.
Ternyata Bu Laras adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakak laki-lakinya sudah berumah tangga. Ayahnya adalah orang Medan, seorang pejabat militer dan ibunya seorang keturunan Belanda. Kedua orang tua Bu Laras bercerai sejak beliau duduk di SMU, oleh karena itu, Bu Laras memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah ini, sejak beliau lulus SMU dulu.
“Ngomong-ngomong, hujannya tambah deras dim, kamu tunggu disini dulu saja sampai reda. Saya mau masuk dulu sebentar” kata Bu Laras sambil menengok kearah jam yang tergantung disudut ruangan
“eh, sudah malam Bu. Sudah setengah 10. Mending saya nekat saja, daripada nanti tambah malam. Kayanya hujanya juga ndak bakal berhenti” begitu jawabku sambil melihat memasukkan laptopku
“ya kalau hujanya ndak berhenti kamu nginep disini saja ndak pa pa” sahut Bu Laras sambil tersenyum menirukan gaya bicaraku
“ya kalau saya nginep nanti bisa dimasa tetangga Bu” begitu sahutku dengan nada bercanda
“siapa yang mau ngeroyok kamu?” sahut Bu Laras cepat.
“Saya tidak bercanda kok dim. Kamu bisa disini dulu kalau kamu mau. Daripada kamu hujan badai nekat”. begitu sahut Bu Laras. Jawabanya singkat, tapi cukup menegaskan bahwa dia tidak bercanda.
“bagaimana? Kalau mau nekat hujan-hujan tidak apa-apa. Saya tidak bisa melarang kamu, tapi kalau mau nunggu hujan dulu juga tidak apa-apa.
“eh, saya nunggu hujan dulu saja bu” jawabku sambil tetap merapikan laptopku.
“OK, saya masuk dulu ya. Soalnya disini banyak angin. Nanti kalau hujannya belum reda silahkan istirahat disini, anggap saja rumah sendiri. Jangan lupa motormu dimasukkan” begitu kata Bu Laras sambil tersenyum
“iya Bu”, begitu jawabku singkat.
***
aku sendiri tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang Bu Laras menawarkan aku untuk tidur disini. Biarpun aku tidur diteras sekalipun, apakah layak seorang mahasiswa sepertiku tidur dirumah seorang dosennya? Apakah ini suatu jebakan? Jangan-jangan ada konspirasi atau rencana khusus dari pihak kampus, atau apapun itu. Begitulah pikiranku muluk-muluk, dan ternyata hujan tak kunjung reda.
Cerita Dewasa – Sementara hujan angin semakin deras, akupun memutuskan memasukkan motorku dan menutup pintu depan. Bukan karena aku memutuskan untuk menginap, tapi angin diluar tambah kencang dan air hujan tertiup masuk ke ruang tamu. “Nanti kalau reda baru balik deh” begitu kataku dalam hati
Setelah menutup pintu, aku bergegas masuk kedalam mencari Bu Laras, bukan pula karena aku ingin tidur dirumahnya, melainkan aku ingin ke toilet mencuci kaki sambil buang air kecil
Ternyata Bu Laras berada didalam kamarnya. aku mendengar suara beliau menonton TV sambil tertawa kecil. Dan aku pun bergegas mendekat dan mengetuk pintu kamarnya yang memang terbuka.
“Eh dimas, gimana? Jadi mau nginep? Masuk dim” sahut beliau sambil tetap menyimak TV-nya.
Tubuhnya terbaring diatas spring bed yang cukup lebar, sementara selimut tebal yang tampaknya sangat hangat menutup hingga bahunya.
“eh tidak Bu, saya mau ke toilet” begitu jawabku
“ya silahkan” sahutnya cepat. “pakai yang didalam saja ya, soalnya yang diluar tidak ada sabunnya. saklarnya ada disamping pintu” lanjutnya sambil menunjuk ke salah satu sudut kamarnya
Dengan sedikit canggung, akhirnya aku masuk dan pipis di kamar mandi di kamar Bu Laras. Padahal tadi aku mau buang air di toilet belakang.
Tidak enak kan kalau masuk rumah sampai ke belakang tanpa bilang. Rasanya agak rikuh juga buang air di kamar mandi Bu Laras, apalagi yang punya kamar sudah berbaring nyaman ditempat tidurnya.
“pintu depan sudah ditutup?” begitu tanyanya begitu aku keluar dari kamar mandi, sambil tetap menyimak tayangan TV yang tergantung disisi kanan kamar
“ehm, sudah Bu” begitu jawabku canggung
“ya sudah, itu acaranya bagus lho. Kalau kamu perhatikan bisa jadi masukan buat TA-mu” katanya sambil membesarkan volume TV
“ini tentang budaya Jepang jaman PD 2, ini bisa jadi referensi blablabla..” begitu lanjutnya menerangkan. aku sendiri hanya bisa melihat tayangan TV itu dari depan pintu kamar mandi, dan bingung harus bagaimana.
Mati gaya banget lah
“Heh, mau sampe kapan berdiri disitu?” Bu Laras segera berseru dengan tanggap. Sepertinya beliau tahu kalau aku berdiri disitu dengan canggung.
“ngapain bengong disitu??”, lanjutnya sambil menggeser posisi tidurnya.
Dengan bahasa tubuh seperti itu, aku menangkap bahwa beliau menginginkan aku beranjak ke tempat tidurnya. Atau setidaknya, duduk disitu lah.
Dan, dengan sedikit salah tingkah aku pun mendekat dan duduk diseberang tempat Bu Laras berbaring. Tepatnya dibelakang Bu Laras yang sedang asyik memperhatikan TV nya.
Sesaat kami pun terdiam. aku benar-benar merasa canggung berada disini. aku juga tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, aku benar-benar merasa aneh dan mati gaya. aku berada dikamar Bu Laras, seorang dosen yang menjadi idola di kampus, atau mungkin idola di universitas!!! ckckck
“nih bantalmu” begitu kata Bu Laras sambil mengulurkan sebuah bantal kepangkuanku. Tampaknya beliau tahu bagaimana aku merasa aneh dan tidak tahu harus bagaimana.
Dan dengan bantal yang yang diulurkan padaku itu, aku malah tambah bingung harus bagaimana. aku tambah salah tingkah dan tetap diam
“kurang besar apa dim? atau kamu mau pakai bantal saya saja?” katanya sambil tertawa ringan dan menggeser bantal panjang berwarna putih yang menopang wajah cantiknya.
“eh” aku tambah bingung dengan kalimat terakhirnya, dan aku masih tak bisa menyahut apa-apa, sekalipun aku tahu maksud beliau adalah mempersilahkan aku tiduran disitu
“ehm, maksud Ibu, saya tidur disini?” kataku terbata. Seolah aku bingung mau menyahut apa
“apa kamu mau tidur di garasi? Sepertinya kasur saya masih sisa banyak kalau cuma kamu tiduri” sahutnya sambil tersenyum
Dan sekali lagi aku sangat tidak percaya dengan kata-katanya.
aku tidak percaya dengan telingaku sendiri. Namun aku tetap mengerti apa yang dimaksud dan segera berbaring sambil tetap menyaksikan tayangan TV yang tergantung didepan Bu Laras.
Sesaat kemudian, nampak acara TV yang kusaksikan dengan canggung itu hampir selesai, dan tiba-tiba suara Bu Laras kembali memecah kecanggunganku “lampu besar saya matikan saja ya dim, saya tidak bisa tidur kalau terlalu terang”
Dan tanpa banyak berkata lagi, beliau langsung beranjak turun dari tempat tidur, dan aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Dibalik selimut itu, Bu Laras masih mengenakan atasan berwarna hitam yang tadi dikenakannya, tetapi ternyata beliau tidak lagi mengenakan celana abu-abunya.
Sebagai gantinya, seutas tali G string hitam terselip diantara belahan pantatnya. Terlihat jelas pantat yang halus dengan paha yang mulus itu bergerak menuju pintu kamar, dimana saklar lampu berada.
OMG!!! I can’t believe what i’ve see.
Setelah mematikan lampu, Bu Laras berjalan kearah tempatku berbaring, dan melewatiku yang ternganga dan sibuk mengalihkan pandangan.
Beliau berjalan menuju kekamar mandi yang terletak tepat dibelakangku, tepatnya diatas kepalaku.
Tampaknya beliau menggosok gigi, beliau sedang bersiap-siap untuk tidur.
Bu Laras hanya dengan G-string hitam menutupi bagian bawahnya, oh My God, I cant realized what I’ve see.
Dan G-string itu menjawab misteri belahan pantat yang terlihat jelas dibalik celana abu-abu tadi. Ternyata Bu Laras tadi mengenakan G-String didalamnya.
Dan apakah aku bermimpi saat ini? aku tidak tahu, aku tidak mau tahu. Dan dengan cepat aku menyusupkan kakiku dibalik selimut. Andaikan ini mimpi, sungguh aku berharap aku tidak terbangun dari tidurku.
“Sebenarnya saya tidak suka celana jeans diatas tempat tidur dim” tiba-tiba Bu Laras sudah berdiri lagi disamping tempatku berbaring, tepatnya disamping kepalaku.
Tapi karena sudah terlanjur ya tidak apa-apa” begitu lanjutnya sambil berjalan mengelilingi tempat tidur, dan kembali menyusupkan kedua kaki jenjangnya kedalam selimut dan berbaring sambil memindah chanel televisi. Beliau tampak beberapa kali memindah saluran, tapi sepertinya tidak ada yang menarik baginya.
Kini dia berbaring membelakangiku, menghadap sisi dimana televisi LCD 32” itu digantungkan. Dan dengan segenap jiwa, aku mencoba memberanikan diri membuka pembicaraan. aku anggap saat ini sebagai sebuah mimpi, so, its free to me to speak up!!!
“ehm, Ibu suka John Lennon?” begitu kalimat pembuka yang otomatis kuucapkan ketika melihat Bu Laras berhenti memencet-mencet remotenya pada salah satu channel music
“yakk, i love The Beatles, dan tolong berhenti memanggil saya Ibu” begitu ujarnya tegas
“kalau nggak boleh panggil Ibu, terus saya harus panggil gimana ni bu?”
“ya terserah kamu mau panggil gimana. Yang pasti disini kan bukan dikampus, kalau kamu panggil aku Ibu, kok kesannya aku ini sudah tua banget. Padahal, bisa jadi kamu lebih tua dari aku lho” begitu jawabnya bercanda
“ya, nggak lah bu, saya ini kan masih mahasiswa, young teenager yang masih energik dan bersemangat”
“whatever you say. Yang pasti aku kuliah S1 tahun 2001, so, paling kamu 3-4 tahun lebih muda. Itu juga kalau kamu SMUnya lancar.”
“eh, saya SMUnya malah cuma 2 tahun bu”, jawabku berkelakar
“jangan panggil aku Ibu,,, thats the point.” ujarnya kemudian
“you can call me Laras, atau teman-teman dekatku biasa memanggil cinta”
“eh, begitu ya cin,,” sahutku bergumam “canggung ah kalau panggil seperti itu, gimana kalau “kak” atau “mbak” atau gimana lah,, saya canggung bu, eh, mbak..”
“kenapa nggak manggil tante saja!! biar puas sekalian. Kamu ini bikin aku merasa tua saja” jawab Bu Laras ketus sambil tetap tertawa ringan
“OK deh mbak, saya panggil cinta… Ngomong-ngomong, kalau saya disini, nggak ada yang marah apa mbak,, eh, cin?”
“maksudmu, kamu bertanya apa aku tidak punya pacar,, begitu?” ujarnya sambil berbalik menghadap kearahku. Sorot matanya terlihat serius dan menatap tajam mataku
“eh, ya bukan begitu mbak,,, eh, ya tapi mungkin bisa begitu maksudnya, atau,,,”
aku jadi salah tingkah sendiri dengan pertanyaanku. Tampaknya aku juga salah bertanya
“dimas, sepertinya kamu harus banyak belajar tentang wanita. Masa’ kamu bertanya seperti itu kepada perawan tua seperti saya?” lanjutnya sambil tetap menatap mataku
“eh, bukan begitu maksud saya mbak,, eh,, saya cuma….”
“nggak apa-apa kok, aku cuma merasa familiar dengan pertanyaanmu barusan. pertanyaanmu itu seperti pertanyaan papaku saja”: “kapan kamu nikah cin?? Ngga mungkin lah gadis cantiknya papa gak laku-laku??” sambungnya lagi dengan nada serius
“eh” aku benar-benar tambah salah tingkah dengan ucapan beliau. aku tidak bisa berkata apa-apa, dan memang sepertinya aku salah bertanya. Sorot matanya yang tajam itu seolah melucuti mentalku yang tiba-tiba hancur runtuh. Dia benar-benar menelanjangi mataku dengan wajah cantiknya yang sangat dekat dihadapanku, sangat-sangat dekat. Mungkin hanya berjarak 5cm dari hidungku. Dan aku benar-benar merasa terpojok dengan ucapannya
Namun tiba-tiba dia tersenyum dengan senyuman yang sangat teduh dan menenangkan. Raut mukanya tiba-tiba berubah seolah mengatakan: “aku hanya bercanda, aku tidak marah kok”. Dan kami saling bertatapan sangat dalam.
Sungguh aku terpesona dengan kecantikannya. Kecantikan khas seorang Indo yang menurutku tidak mungkin ditandingi oleh siapapun juga.
Dan ditengah kekagumanku akan wajah menawan itu, tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba dia memajukan kepalanya, dan dengan cekatan dia memagut bibirku. aku benar-benar kaget dan tidak menyangka hal ini terjadi. Jantungku berdegup sangat kencang, darahku seakan mengalir sangat deras kearah kepala.
aku menyadari bahwa aku sedang bercumbu dengan idola dari segala idola. aku dapat merasakan dengan jelas aroma nafasnya yang wangi, bibir basahnya yang menghisap pelan bibirku, dan lidahnya yang mulai bermain dirongga mulutku.
Semakin lama, bibir kami terpaut semakin dalam, hingga tak sadar tanganku telah memeluk erat tengkuknya, dan kami tidak lagi berbaring berdampingan, melainkan aku telah berada diatasnya.
Perlahan aku memberanikan diri untuk menggeser cumbuan bibirku, aku memberanikan diri mencumbu bagian leher hingga belakang telinganya, dan tampaknya dia sangat menikmatinya. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang kulakukan. Sesaat aku menghisap daun telinganya perlahan, dan aku bisa membaui dengan jelas aroma wangi yang selama ini hanya terasa samar.
Sungguh seorang wanita yang cantik dan spesial.
“dim, boleh kubuka ini?” kata Laras tiba-tiba sambil menyingkap kaos hitamku. aku tidak menyahut dan menjawabnya dengan membuka kaos yang kukenakan.
Dan tak lama kemudian, Laras sudah asik memainkan dadaku dengan lidahnya yang hangat. aku sungguh merasa melambung tinggi dengan permainan lidahnya, dan aku sengaja bergeser dan berbaring hingga Laras lebih bebas mengexplore tubuhku.
Dan tanpa dipersilahkan, Bu Laras sudah telungkup menindih perutku. Mulutnya yang lembut tak henti-hentinya menjilat wilayah dadaku, dia terus melakukan ritual tersebut hingga lidahnya kembali menuju bibirku, dan sekali lagi kedua bibir itu berciuman erat. Dia kembali mencumbu erat bibirku, dan melanjutkan kecupanya hingga wilayah leher dan telingaku. Tanganku pun dengan sigap memeluk erat pinggulnya sambil mencumbu bagian bawah lehernya.
“boleh tangan saya masuk Cin?” tanyaku sambil tetap menikmati permainan lidahnya. Kali ini jemariku sudah mulai berani menyusup melalui bagian bawah kaosnya dan meraba bagian punggungnya. Dapat kurasakan punggung yang halus itu bersinggungan dengan jariku
Laras pun menghentikan usapan lembut lidahnya di bagian belakang telingaku, dan berbisik pelan: “mau masuk kemana memangnya?”
“eh,, mau masuk kesini, eh, mbak”, kataku gugup, sambil menghentikan jemariku yang tengah meraba bagian perutnya yang rata dan terawat.
Dan, Laras pun tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya tersenyum cantik sambil menggenggam bagian bawah kaosnya, kemudian menyingkapnya keatas dengan cekatan.
Yah, dia membuka penutup atas tubuhnya itu yang ternyata sudah tidak dilapisi bra didalamnya.
Dan mataku kembali terbelalak ketika atasan itu tersingkap melewati bagian dadanya. Sebuah pemandangan yang terindah yang pernah kulihat. Sepasang gumpalan daging tersembul dibalik kaos itu, sangat halus dan lembut. Saking halusnya, dapat kulihat alur urat yang tersembunyi tipis dibalik kulitnya.
Sungguh payudara terindah yang pernah kulihat.
Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin sekitar 34an, tetapi ukurannya sangat proporsional dengan tubuhnya, ditambah lagi dengan putingnya yang mungil berwarna coklat kemerahan menghiasi ujung-ujungnya. Sangat-sangat sempurna, im really speechless
Saking kagumnya dengan payudara itu, aku tidak menyadari tangan nakalku sudah meraba lembut bagian bawah gumpalan daging itu,
“eh,, boleh saya…”
“sure..” katanya memotong kalimatku sambil kembali telungkup dan melumat bibirku.
Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun tak mau kalah.
Seolah telah mendapat ijin, akupun melayangkan serangan-serangan yang lebih berani. Kedua tanganku segera meremas lembut payudara indah itu, dan permainan Laras pun semakin mengganas.
Dia tampaknya tidak memberikan kesempatan bagiku untuk memegang kendali. Bibir mungilnya semakin agresif, dia menorehkan cupang merah tipis didadaku, hingga menjelajahi perut bawahku sambil menyibak selimut yang masih sedikit menaunginya.
Sangat-sangat liar, bahkan aku tidak kesampaian merasakan puting merah itu dengan bibirku.
Sambil bibir mungilnya terus beraksi, dia menarik turun resliting celanaku, “no jeans in my bed” begitu bisiknya ditelingaku sambil tersenyum menggoda.
Dan aku hanya bisa pasrah ketika ternyata Laras tidak hanya berniat melucuti celana jeansku. Dia mencengkeram jeans berikut celana dalamku, menariknya turun dengan cekatan, dan melepaskanya dari kakiku hingga aku benar-benar dibuat bugil dihadapnya.
Sekali lagi aku merasa bahwa aku sedang bermimpi, aku sedang bugil dihadapan idola kami semua.
Sungguh aku tidak percaya, Laras sedang mencumbu perut bagian bawahku, dengan pangkal pahaku yang terbuka lebar tanpa seuntai benang pun menutupinya. Sungguh terasa bagaikan mimpi, imajinasiku melayang jauh dan aku tidak pernah merasakan moment seindah ini, seorang wanita yang kupuja, sedang bermain-main dipangkal pahaku.
Dan sekali lagi Laras menunjukkan keajaiban lidahnya, kali ini serangannya diarahkan pada bagian bawah perutku.
Yak, dia mencoba membunuhku dengan jilatan-jilatan maut dibawah sana. Dan tak lama kemudian, tangan kanannya memegang erat batang yang sudah berdiri tegak disana. Dan sambil menatap mataku dia mengecup bagian kepalanya, dan segera memasukkan batang itu kedalam mulutnya. Sungguh sekali lagi aku merasa terbang ke awan.
Tidak seperti lumatan-lumatan yang pernah kurasa, lidah Bu Laras benar-benar ajaib, dia benar-benar mampu memainkannya dibawah sana, just like a french kiss in my junior.
Begitupun dia tidak perhenti disitu, setelah puas menghisap bagian batang, Bu Laras menggeser mulutnya kebawah, dan inilah pertama kali aku merasakan sensasi rangsangan di bagian paling bawah sana. Laras melumat habis pangkal bola-bolaku, dan melanjutkannya dengan mencumbu area sun hole-ku dengan liarnya.
Dan tampaknya dia begitu menikmatinya. Dia melakukannya sambil terus memainkan bola-bolaku, sungguh suatu sensasi yang luar biasa.
Sejenak, ingin rasanya aku membobolkan saja pertahananku dan mengaku kalah. Bibir Bu Laras adalah bibir paling gila yang pernah kuhadapi. Namun aku masih bisa berpikir sehat. aku segera menarik bagian pangkal pahaku itu dari cengkeramannya, dan segera memagut bibir ajaib itu dengan bibirku.
Dengan cepat pula, kubaringkan Laras karena kali ini aku ingin menguasai permainan. aku pun segera berganti menunjukkan potensiku. Kembali kurangsang bagian leher Bu Laras, kujilat perlahan, hingga turun sampai bagian payudara. Bagian yang sangat kunanti dari tadi. Kubenamkan mukaku diantara kedua payudara itu, sungguh payudara yang paling lembut yang pernah kurasakan.
Tanganku pun tak mau kalah, kuremas payudara kanan dengan tangan kanan, sambil lidahku mulai bermain dengan puting kirinya. Bagaikan buah cherry yang sangat manis, aku mengulum lembut puting itu, sungguh rasanya sangat menggairahkan. Ini adalah puting paling sempurna yang pernah dirasakan bibirku.
Merasa sudah menguasai keadaan, aku mulai memainkan ritme permainan. Sesaat kuhisap puting itu lebih dalam, sambil meremas payudara kanannya. Demikian aku bergantian bermain dengan kedua gumpalan menakjubkan itu. Sesaat aku mencoba menyentuh lembut lingkaran penyangga puting itu dengan telunjukku, sesaat pula dapat kurasakan puting itu mulai mengeras kencang disertai munculnya bulu-bulu halus yang berdiri diatas kedua bukit indah itu.
Sungguh sepasang payudara yang sangat cantik, sangat indah dengan bintik2 bulu roma yang menghiasinya, aku jadi semakin bergairah melihatnya, dan akupun tak mau menyia-nyikan moment ini.
Permainan bibirku mulai menjamah bagian perutnya yang rata. Sambil tangan kiriku tetap mencengkeram satu dari dua bukit indah itu, tangan kananku menekan bagian punggungnya perlahan. Tampaknya Bu Laras benar-benar menikmati permainanku, dan akupun memberanikan diri mengexplore bagian bawah perutnya dengan lidahku. Yah, aku mengecup lembut belly buttonnya dan mencoba bermain sedikit lebih kebawah sana.
Menanggapi perlakuanku, Bu Laras tidak terlalu terlihat keberatan. Dia malah terlihat sangat menikmati dan sedikit membuka pangkal pahanya. Bahasa tubuhnya seolah memberiku ijin untuk beranjak ke bagian itu. Segera aku kembali menurunkan kepalaku. Kali ini aku mencumbu bagian dalam pahanya, tanganku pun sekarang sudah memegang erat kedua pinggulnya, dan akhirnya aku mulai berani mencium bagian segitiga G-string yang menutupi surganya.
Sungguh suatu pengalaman yang tidak pernah akan kulupakan. aku sedang menghirup bagian paling intim milik Bu Laras, aku merasakan sensasi yang paling dahsyat yang pernah kurasakan selama ini.
Gairahku semakin menggebu, dan akhirnya kuberanikan diri menyusupkan lidahku ke sela-sela bagian bawah segitiga cinta itu. Tangan kanan ku mencoba menyibak kain hitam itu, dan bibirku mulai mengecupnya perlahan, rasanya sungguh indah, agak terasa asin, tetapi aromanya sangat lembut. Sungguh-sungguh indah.
Bu Laras yang tampaknya sudah sangat pasrah itu akhirnya menyangga kepalaku dengan tangan kanannya. Tanpa berkata apa-apa, dia meraih tali pengait segitiga itu dengan tangan kirinya, dan dengan perlahan dia menurunkan G-String itu dengan tangan kirinya. aku yang sedang dimabuk gairah pun segera tanggap, kubantu dia menurunkan segitiga bertali itu, dan melepaskannya dari kakinya yang jenjang.
Dan dengan segera, seperti seorang anak kecil yang sedang dijamu dengan dengan sekotak permen lezat, aku pun segera kembali dengan daerah segitiga yang menakjubkan itu.
Kini tubuh wanita pujaan itu telah benar-benar telanjang. aku benar-benar takjub dengan keindahannya, lekuknya yang sempurna dibalut dengan kulit yang putih, tipis dan lembut. Ahh,, ternyata Bu Laras yang kami puja selama ini tidak hanya pintar dan cantik, beliau sangat sempurna seutuhnya, sangat terawat.
Bagian pangkal paha itu terihat sebagai bagian segitiga yang ditumbuhi dengan bulu-bulu lembut. Tampaknya Laras sangat rajin mencukurnya. Pun begitu, tepat pada bagian bawahnya, terdapat sekatup bibir mungil berwarna merah muda. Pintu surga itu terlihat begitu rapi, hanya terlihat sebagai segaris lubang yang berwarna kemerahan.
Tanpa diberi aba-aba, aku pun segera kembali menjamu segitiga cinta itu. Kali ini aku merasa sangat bebas, tidak ada lagi sehelai benang pun yang jadi penghalang. aku mulai mengecup pelan bibir cantik dibawah bulu-bulu tipis itu, dan tampaknya Laras sangat-sangat menikmatinya, dan akupun menikmatinya.
Samar-samar mulai kurasakan aroma wangi yang sempurna, aroma yang mungkin dapat mengalahkan nikmatnya rasa sabu yang dulu sering kuhisap jaman SMU. Perlahan tapi pasti, aku memagut bagian itu dengan bibirku, lalu kembali kuhisap perlahan. Dengan sedikit keberanian, tanganku pun mulai turut meraba bagian itu. Kucoba membuka tangkupan dua bibir itu dengan jemariku, dan kulihat jelas liang berwarna merah muda yang begitu indah. Tampaknya sangat hangat dan nyaman didalam sana. Dan kembali aku memberanikan diri mengeksplore lubang itu dengan lidahku.
Kali ini, kucoba memasukkan lidahku kedalamanya dengan bantuan kedua tanganku yang menyingkap pintu cinta itu. Kali ini, aku benar-benar merasakan aroma yang sangat memabukkan itu, sangat membangkitkan gairahku. Dan dengan segera, aku memainkan lidahku didalam sana, menghisap perlahan, kemudian menghisap kuat, demikian aku mencoba mencari ritme yang tepat dalam menangani bibir terindah ini.
aku mencoba memainkan lidahku dengan maksimal disini, sambil tangan kananku merangsang bagian klitoris Bu Laras. Dan tampaknya dia sangat-sangat menikmatinya.
Setelah sesaat bermain dengan ritmeku, aku mencoba mengubah pola serangan. Kali ini, bibirku menghisap lembut bagian klitorisnya. Disini lidahku pun turut bermain, kuhisap sambil sesekali menekan bagian itu dengan lidahku.
Perlahan tapi pasti, aku kemudian memberanikan diri memasukkan telunjuk kananku yang dari tadi sudah memegang erat kulit berwarna kemerahan itu. Dan, ketika seluruh telunjukku tercelup didalamnya, Laras tiba-tiba mencengkeram kepalaku dengan tangan kanannyanya yang sedari tadi menyangga kepalaku.
Sejenak aku tiba-tiba tersadar, kali ini aku memasuki daerah privatnya tanpa mohon ijin terlebih dulu.
aku sedikit terkejut dan kembali gugup, secara reflek aku segera menarik keluar jariku dari lubang itu, tetapi dengan segera pula Bu Laras memegang tanganku dengan tangan kirinya.
Yak, dia mengijinkan jemariku bermain didalamnya, dan tanpa berkata apa-apa, dia membimbing jari nakal ini masuk kedalam miliknya yang sangat berharga itu.
Sungguh aku dapat melihat raut wajah cantik itu yang kini sedang dibara gairah, aku melihat dia sangat menikmati permainanku, dan dengan sigap pula, aku merangsang kembali daerah klitorisnya dengan bibirku, sembari jemariku mencari-cari daerah G-spotnya didalam sana.
Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan area paling sensitif itu. Tak lama jariku bermain disana, Laras semakin membuka lebar pangkal pahanya. Dia kini tidak hanya mendesah dan menatapku nakal. Bu Laras sudah tidak malu-malu lagi untuk mengerang. Kaki jenjangnya sedikit ditarik keatas, dia sedikit melipat lututnya, suatu tanda bahwa dia sungguh terbuai dalam permainan jemariku.
Pun demikian, aku pun semakin bergairah, aku semakin cepat menggerakkan jariku didalam sana, kutekan kuat pagian G-Spotnya sambil lidahku terus memainkan klitorisnya, jemari dan lidahku kini sudah masuk gigi 5. aku semakin cepat dan liar bermain dengan lubang cinta itu.
Namun tiba-tiba Laras mengapit erat kepalaku dengan lututnya. Dia menjepit kuat kepalaku sambil tangan kanannya menekannya kedalam. Dan segera setelahnya, aku bisa merasakan tubuh itu terguncang, aku bisa merasakan, tubuhnya sedikit kejang, dan,, aku kembali kaget dibuatnya, seiring dengan teriakan yang keras, tiba-tiba dia menggelinjang hebat, jemariku merasakan ada kedutan hebat didalam sana,,, dan tidak putih bening kemukaku.
Yess, dia sudah sampai… and she squirt in my face!!
dan aku tidak bisa mengelak sama sekali, secara reflek aku meronta mencoba melepaskan kepalaku, tetapi cengkeraman pahanya terlampau kuat, dan sampai saat ini pula, paha lembut itu masih mencengkeram kuat kepalaku.
aku hampir tidak percaya dengan apa yang kualami, Bu Laras mencapai puncak dan menyemprot mukaku dengan cairan cintanya memabukkan.
aku sangat terkejut, tetapi sebenarnya aku sangat menikmatinya. Pun begitu Bu Laras yang sudah terkulai lemas, aku bisa melihat tubuhnya yang masih sedikit gemetar, wajahnya sangat-sangat erotis, sepertinya dia baru saja mengalami orgasme paling dahsyat yang pernah dirasakannya.
***aku kemudian beranjak ke sudut ruangan berinisiatif mengambil beberapa lembar tissue, dan mengelap mukaku yang agak lengket,
“kamu baik2 saja kan cin?” tanyaku sambil berbaring lagi disisinya
“eh,, maaf ya dim, aku sendiri tidak terpikir kalau bakal sampai kaya gitu” tangannya dengan reflek menarik lembar tissue yang kupegang dan segera me-lap bagian pipiku yang ternyata masih sedikit basah.
“tidak apa-apa kok, aku juga menikmatinya”
“serius,, ini pertama kalinya sampai seperti itu, aku benar-benar tidak menyangka sampai seperti itu” jawab Laras sambil memeluk aku erat.
Dan akhirnya, malam itu kami melanjutkan sesi bimbingan TA dengan bercerita panjang lebar tentang keseharian kami, tentang keluarga kami, tentang kesibukan-kesibukan kami.
Maklum, pada dasarnya aku dan Bu Laras masih belum terlalu mengenal satu sama lain.
“jadi, sekarang mamamu masih tinggal di Jakarta bersama suaminya yang baru itu?” tanyaku menanggapi cerita Laras.
“begitulah” jawabnya pelan.
“ooh,, beliau punya anak lagikah?”
“nggak sih,, cuma ada suatu hal yang dulu bikin aku nggak nyaman tinggal disana”
“kenapa??”
“well, si om bule itu hypersex.”
“heh?? maniak gitu??”
“yupss. dan aku pernah tinggal bersama mereka selama 2tahun”
“haha.. yang kamu ceritakan waktu kamu SMU itu ya? Trus, apa hubungan antara hypersex dengan ketidaknyamananmu tinggal bersama mereka? Toh si om bule itu kan papa-mu, bukan suamimu?”
“yahh,, masalahnya bukan cuma hypersex doang dim. dia juga orang naturist. Kalau dirumah mamaku sana, begitu masuk gerbang udah wajib bugil. Itu berlaku buat semua orang yang tinggal disitu.”
“whatsss??? jadi kamu juga ikut2an nudis gitu??”
“nggak cuma saya honeyy, disana dari sopir nyampe tukang kebon juga bugil semua.”
“begitukah?? are u serious??”
aku seperti tidak tahu harus menjawab apa lagi. Tampaknya Laras memang memiliki pengalaman yang luar biasa dalam hidupnya. Dia banyak bercerita tentang masa lalunya, dan tiba-tiba aku merasakan empati yang sangat dalam, sebuah perasaan seolah tidak terasa lagi ada jarak antara kami.
Seolah seperti sepasang kekasih/sahabat yang sedang berbaring dan sharing berdua
“uhm,, kembali ke masalahmu tadi Cin, emang kalo menurutmu kamu trauma dengan masa lalumu, lalu apa dampaknya di masa sekarang?” aku kembali bertanya mencoba mengenal dosenku itu lebih dekat.
“well, kita bahas topik ini lain kali lagi saja ya dim, kamu belum dapet kan?” katanya sambil kembali memelukku mesra. Tampaknya dia belum ingin membahas sampai sejauh itu, dan akupun harus menghormatinya
“kalau aku sih, asal kamu senang sudah bisa dibilang dapet kok cin. gue ikhlas” jawabku cengengesan
“Dasar mulut buaya!! sekarang kamu sudah berani merayu saya…” sahutnya tersipu sambil mencubit lenganku keras-keras
“Ehmn, Dim, kamu percaya sama aku kan?” lanjut Laras sambil meraih laci disamping tempat tidur. aku tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil
“okeey,, tangan kamu diikat dulu yaa,,” katanya sambil mengeluarkan seutas kain panjang dan mengikat kedua tanganku ke bagian atas tempat tidur. aku mulai berpikir aneh-aneh, sejenak aku ingin menolak apa yang dilakukan Bu Laras padaku. Tapi, aku penasaran juga dengan rencananya, so, ikuti saja deh,, hehe
“aku mau diapain hon?”
“diem ah,, trust me honey” jawabnya sambil kembali mengecup bibirku. aku sendiri tidak bisa banyak bergerak dengan kedua tangan yang terikat erat diatas kepala, sedangkan tampaknya bibir maut itu akan kembali mengeksekusi titik-titik lemahku.
Perlahan, Laras menggeser kembali kecupannya kearah leherku, sedikit cupang panjang disana, dan kemudian turun kearah dada. Bagian ini tampaknya bagian yang paling disukainya, lidahnya yang lembut bermain dengan putingku, sambil kedua tangannya mimijit-mijit bagian samping dadaku. Di babak pertama ini aku sudah mulai bisa merasakan sensasi Laras. Sebuah teknik-teknik yang baru kutemui dalam bercinta, diselimuti oleh paras yang sungguh-sungguh menggoda.
Perlahan, dia kembali menggeser posisi bibirnya, kali ini kecupan-kecupan itu diarahkan kebagian samping dadaku, dan, dia bermain dengan ketiakku. aku meronta keras, kukatakan padanya bahwa ini keterlaluan, “Geli banget Cin, kamu menyiksaku”,, begitu ujarku. Tapi tampaknya Laras tidak peduli dan terus melancarkan aksinya.
Dan ternyata teknik yang satu ini juga sangat mengerikan. Rasa geli yang perlahan berubah menjadi sebuah rangsangan yang mahadahsyat. Seiring dengan rabaan-rabaan tangannya yang sedikit memijit, Laras benar-benar bak seorang sex machine yang istimewa.
Selama beberapa saat Laras menyiksaku, tampaknya dia sudah cukup puas dan berniat memulai permainannya di bagian bawah.
“Sudah panas kan?” katanya sambil sambil tersenyum kecil dan memegang batangku yang sudah berdiri keras.
Dan tanpa banyak bicara lagi, dimasukkannya batang itu kedalam mulutnya.
Yah, Laras segera mengulumnya dengan bersemangat, dan dia langsung memainkan ritme permainan oral terdahsyat yang pernah kurasakan. Sesekali setelah lidah hangatnya bermain lincah, dihisapnya batangku kuat-kuat, seolah dia ingin menyedot habis seluruh isinya.
Sambil terus bermain-main dengannya, tangan Laras meraih dua bantal disisi kiri tempat tidur,
“diganjal bantal ya dim” katanya sambil menyusupkan dua bantal itu dibawah pantatku. aku yang sudah merasa keenakan pun pasrah saja, kuangkat pantatku sesuai dengan apa yang diingininya, dan kini, posisiku agak berasa tidak nyaman, punggung dan pantatku terganjal oleh bantal yang tampaknya cukup tinggi. aku agak heran sebenarnya apa rencana Laras, tapi kembali lagi, aku pasrah saja.
Laras kemudian mengambil posisi tepat dbawah selakangku, dan kemudian kembali dia memasukan batangku ke bibir mungilnya, tangan kirinya memegang testikelnya dan tangan kanannya memegang pangkal batangku. aku tidak bisa melihat terlalu jelas apa yang terjadi disana, tapi aku kembali merasakan sensasi yang luar biasa.
Sejenak setelahnya, aku merasakan kepala penisku bersentuhan dengan bidang yang sangat hangat dan licin, saat itu pula kurasakan sensasi yang luar biasa diujung kemaluanku, sembari kudengar Laras sedikit batuk-batuk dan mengeluarkan penisku dari mulutnya.
Dan,, ternyata dia melakukan deep throat. Bu dosen satu ini memang gila, dan ini adalah pengalaman deep throat pertamaku. Dan malam ini Laras memberiku deep throat tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali.
Sensasi rasanya benar-benar gila, sepertinya aku hampir ejakulasi dibuatnya.
Sesi oral pun berakhir, saat ini Laras kembali memeluk aku. Tubuhnya yang gemulai bergelayut mesra diatasku “sekarang menu utama yuk,,” begitu bisiknya memanja ditelingaku…
Sambil tangan kirinya tetap memeluk leherku, Laras meraih kembali senjataku dan mengarahkannya kebagian pangkal pahanya yang memang sudah berada tepat diatasnya.
Yah, Laras memasukkan kepala batangku kedalam lubang yang berhias bulu lembut itu, dan tak lama kemudian dengan sedikit menindihku, seluruh batangku telah bersemayam didalam lubang hangatnya.
1001 rasa penasaran yang selama ini berkecamuk hilang sudah. Kini aku telah merasakan hangat dan nikmatnya liang itu. Sangat hangat dan rapat, bahkan jika batang kesayanganku itu bisa membauinya, kukira dia pun akan terkesima dengan aroma wanginya.
Laras pun memagut bibirku sambil sedikit menggoyangkan pinggulnya, tidak naik turun tetapi memutar perlahan. Wew, bahkan teknik goyanganya pun dahsyat, tidak banyak bergerak, tapi dapat kurasakan batangku dipijit dengan sempurna.
Dan perlahan kusadari, sepertinya pijitan ini tidak hanya bermuara pada goyangan pinggul semata, tetapi tampaknya dinding-dinding kemaluan Laras turut berperan. Lubang ini menggigit rapat dan dapat kurasakan sedikit berdenyut teratur, ini juga baru kali ini kurasakan.
Hal ini kusadari ketika Laras beranjak dan menjamuku dengan posisi duduk. Dengan senjataku yang masih tertancap disana, kurasakan pijitan-pijitan lembut itu walau Laras tidak banyak menggerakan pinggulnya.
Dan, aku tidak menyangka bahwa menit-menit kedepan adalah waktu yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Mungkin bila aku bisa memutar balik waktu, aku akan selalu memutar menit-menit itu sambil mengaktifkan fitur slow motion.
Dengan posisinya yang mendudukiku, Laras kembali menggoyangkan pinggulnya.
Kali ini tidak memutar maupun maju mundur, melainkan naik turun. Tubuhnya yang semampai itu seakan menduduki bantalan trampoline. Sekilas aku merasa miris dengan perlakuannya. Dengan sedikit berjongkok, Laras menarik pangkal pahanya keatas hingga tiga perempat batang penisku keluar dari sarangnya, dan dengan cekatan pula dia menimpanya kembali. Yah, dia mengocok batangku dengan kencang dengan posisi pinggulnya yang naik-turun tajam itu.
Jujur, aku sedikit takut kalau-kalau dia sedikit meleset dan mematahkan senjataku yang sangat berharga itu. Tapi, kekhawatiran itu segera sirna terhapus sensasi yang kembali kurasakan.
Laras memperlakukan senjata yang benar-benar berdiri keras itu seperti mainan, seperti dildo stainless yang tak punya jaringan syaraf, dan kali ini aku benar-benar ingin menyerah dan memuntahkan cairan cintaku, aku tak kuasa mengimbangi wanita cantik yang tiba-tiba menjadi sangat liar ini. Dapat kulihat jelas ekspresi mukanya saat ini, dia tidak hanya sekedar mencoba memuaskanku, dia kembali turn on, dan aku wajib mengimbanginya.
Tapi semakin aku melihat wajah cantiknya, semakin ingin rasanya aku mengakhiri permainan ini. Whatever, aku memang tidak mampu melayaninya.
Tapi tiba-tiba, Laras mengakhiri gerakan naik turun yang dahsyat itu.
Dia merebahkan tubuhnya, memeluk aku erat, sambil tetap mengocok kencang batangku dengan goyangan pinggulnya super cepat itu.
Dan tentu saja pada akhirnya aku segera tewas dan mengakhiri pertahananku. aku benar-benar tidak tahan dengan perlakuannya, dan kali ini aku benar-benar tak bisa berkutik dan harus menyerah kalah
Laras tengah memelukku erat sambil sambil mengggoyangkan pinggulnya maju-mundur dengan cepat saat batangku mulai kejang-kejang.
Pinggul indah itu bergerak dengan kerasnya seolah penisku hanya mainan tak bernyawa.
Dan seiring dengan dengan senjataku yang mulai muntah dan mengaku kalah, ritme goyangan Laras perlahan-lahan mulai melambat, dan dapat kurasakan kembali cengeraman pahanya yang mulai bergetar, seiring dengan kedutan ringan yang memijit lembut kemaluanku yang masih tertanam didalamnya. Dan perlahan-lahan, lubang menakjubkan itu mencengkeram penisku sangat erat. Ternyata, Laras pun mendapatkan orgasme untuk yang kedua kalinya…
Yah, liang hangat itu seakan menyedot batangku dengan kerasnya seiring dengan bobolnya pertahananku.
Dan kembali aku menangkap ekspresi muka cantik Laras yang seolah mengatakan bahwa dia baru saja mendapatkan orgasme yang hebat.
Selama beberapa saat tubuh indah itu bergetar lemah diatas tubuhku, dan tak lama kemudian sosok cantik itu benar-benar lemas tak berdaya.
Perlahan-lahan, Laras menggeser tubuhnya sambil melepaskan liang terindahnya dari kemaluanku dengan hati-hati.
Tanpa berkata apa-apa, dia membaringkan tubuh indahnya disampingku, dan tak lama kemudian, idola dari segala idola itu sudah terbaring lelap disisiku
aku hanya bisa terdiam tanpa keluar kata-kata karena tidak bisa percaya dengan kejadian di malam itu, sungguh rasa kepuasan tersendiri dapat merasakan kenikmatan dari dosen pembimbing yang juga menjadi idolaku, sampai sekarang aku sering melakukan itu dengan Bu Laras, berbagai gaya bercinta telah aku lakukan bersama dia seklai lagi aku bilang sungguh kenikmatan yang tiada duanya